Pria yang menerima transfusi darah dari wanita dengan riwayat hamil memiliki risiko 13% lebih tinggi mengalami kematian awal – dikenal sebagai "efek ibu" – menurut penelitian baru yang dipublikasikan dalam Journal of American Medical Association (JAMA).

Penelitian, yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Leiden Medical Centre di Belanda, meneliti lebih dari 245 hari pada 31.118 individu berusia antara 41 dan 77 tahun – yang menerima transfusi darah di Belanda, antara tahun 2005 hingga 2015. Sejumlah total 88% donor adalah pria, 6% adalah wanita hamil dan 6% adalah wanita yang belum hamil. Persentase ini didapat karena pria bisa mendonasikan lebih banyak darah dibandingkan wanita. Wanita dengan riwayat kehamilan yang tidak jelas tidak dimasukkan dalam penelitian.

Tujuannya untuk mengetahui implikasi klinis – Jika memang benar

Hasil penelitian:

Totalnya terdapat 3.969 pasien meninggal selama penelitian. Risiko kematian rata-rata sama setelah transfusi darah dari pria (80 kematian per 1.000) atau pada wanita yang tidak pernah hamil (78 kematian per 1.000). Meskipun demikian, pada pria yang menerima darah dari wanita dengan riwayat kehamilan, ditemukan adanya 101 kematian per 1000 orang per tahunnya.

Ini berarti bagi seorang pria yang menerima darah dari seorang wanita yang pernah hamil, kemungkinannya untuk kematian dalam tahun tersebut naik menjadi 13% per unit darah yang diterima. Sedangkan pada wanita, tidak ada perbedaan statistik pada angka kematian antara mereka yang menerima darah dari kategori pendonor manapun.

Penemuan tersebut sangat "profokatif dan mungkin – jika benar – memiliki implikasi klinis yang signifikan," bagi penerima donasi darah dan proses transfusi darah, Dr Ritchard Cable, dari American Red Cross Blood Services, menulis dalam editorial penelitian. Meskipun demikian, banyak yang menolak penelitian ini disebabkan metodologinya yang tidak cukup baik.

Para ahli memperdebatkan fakta bahwa penelitian gagal membuktikan signifikansi statistik

Pada mulanya, peneliti hanya menggunakan individu yang menerima tranfusi dalam satu dari tiga kasus. Apakah mereka mendapat donor dari donor pria, atau dari donor wanita yang belum pernah hamil, atau dari donor wanita yang memiliki riwayat kehamilan. Ini berarti bahwa pasien yang pernah menerima transfusi dari donor pria dan wanita dengan riwayat kehamilan misalnya, tidak dimasukkan dalam observasi.

Karena pasien dalam penelitian hanya menerima transfusi dari satu jenis donor, mereka juga menerima lebih sedikit transfusi dibandingkan rata-rata transfusi yang diterima orang lain. Dengan demikian, kondisi ini tidak merefleksikan kondisi situasi sesungguhnya.

Selain itu, peningkatan risiko kematian pada pria yang sudah menerima transfusi dari wanita hamil hanya bisa ditemukan pada pria berusia 50 tahun dan di bawahnya. Dan juga, peneliti menguji sejumlah pasangan berbeda seperti resipien pria dan wanita dalam empat kelompok usia berbeda, donor pria dan wanita pada beberapa tahap kehamilan, pria dan wanita yang mendapatkan satu kali transfusi atau lebih. Namun, mereka gagal menunjukkan hubungan statistik yang mungkin muncul secara acak ketika dimintai pertanyaan mengenai apakah analisis bisa dikatakan valid atau tidak.

Semua faktor ini mengartikan, ini merupakan "desain penelitian yang sangat kompleks" dimana sejumlah besar pengkajinya dan editor JAMA "menghadapi beberapa kesulitan."

"Sehingga tidak jelas hasilnya," catatnya.

Dibutuhkan penjelasan lebih lanjut untuk menunjukkan peningkatan jumlah kematian

Meksipun kematian disebabkan transfusi masih sangat langka, namun penyebab paling umum dari kematian disebabkan transfusi merupakan cedera paru-paru akut disebabkan transfusi (transfusion-related acute lung injury or TRALI). Peneliti percaya bahwa perubahan yang muncul pada sistem imun wanita hamil mungkin bisa menjadi pemicu kematian.

Peneliti menspekulasikan dalam laporan, bahwa antibodi atau faktor imun lain yang muncul selama kehamilan bisa menyebabkan TRALI pada resipien pria. Beberapa antibodi dibuat untuk molekul yang diproduksi oleh gen dalam kromosom Y, jika anak yang berada dalam kandungan adalah pria.

Tampaknya insiden ini terjadi jika transfusi mengandung lebih banyak plasma daripada sel darah merah. Meskipun demikian, hal ini memunculkan satu pertanyaan, menurut Rutger Middelburg, seorang ahli epidemiologi di Universitas Pusat Medis Leiden mengenai apakah ada cukup limfosit untuk memicu reaksi imun yang letal.

Untuk sekarang, peneliti tidak terlalu memahami apa penyebab pasien mengalami kematian atau "mengapa efek [mortalitas] hanya terbatas pada ... pria di bawah usia 50 tahun," ungkap Middelburg.

"Atau kemungkinan karena status kadar besi antara wanita yang pernah hamil dan donor pria. Beberapa penelitian juga melaporkan perbedaan fisiologi sel darah merah antar jenis kelamin," tulis Middelburg dalam laporannya.

Untuk sekarang, penulis mengatakan, "penelitian lebih lanjut dibutuhkan untuk mereplikasi penemuan ini, menunjukkan signifikansi klinis yang ada, dan mengidentifikasi mekanisme di baliknya." Mereka mengungkapkan bahwa semua wanita, termasuk wanita hamil perlu terus mendonasikan darahnya. MIMS

Bacaan lain:
Manfaat asam folat saat hamil
PBB: Hapuskan hukum anti-aborsi di dunia
Depresi setelah melahirkan: Bagaimana perawat bisa membantu

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/10/17/blood-transfusions-pregnant-women/ 
http://www.independent.co.uk/news/uk/home-news/blood-tranfusions-pregnant-women-kill-men-study-trali-journal-american-medical-association-a8006946.html 
https://www.livescience.com/60702-blood-transfusions-women-men.html