Kesuburan seorang wanita bukan hanya ditentukan oleh angka dan tes pemeriksaan. Prospek memiliki anak bukan hanya ditentukan oleh jumlah telur yang dimiliki seorang wanita tetapi seberapa baik kualitas telur tersebut. Jumlah telur tidak selalu berhubungan dengan tingkat kesuburan.

Namun, bagi wanita yang sangat ingin hamil, hasil tes darah follicle stimulating hormone (FSH) dan anti-Müllerian hormone (AMH) mungkin penting untuk kehamilan.

Dr. Aimee Eyvazzadeh, seorang dokter endokrinologi reproduksi di San Francisco, mengatakan tes ini seringkali membuat para wanita sedih dan takut, ada juga yang kehilangan harapan.

Tes ini digunakan untuk menilai tingkat kesuburan dan berapa banyak telur yang dimiliki seorang wanita, dan saat nilainya ditemukan rendah, hasil ini bisa membuat para wanita menemui jalan buntu. Fakta bahwa mereka tidak akan pernah memiliki anak sendiri merupakan hal yang sangat menyedihkan.

Tetapi, ada lagi yang menentukan tingkat kesuburan seorang wanita, selain hasil tes ini, menurut Eyvazzadeh, "kadar hormon seseorang tidak akan pernah memberitahu apakah Anda bisa atau tidak bisa hamil." Ia menambahkan bahwa nilai FSH lebih tinggi, begitu juga dengan penurunan nilai AMH, seringkali dihubungkan dengan penurunan kesuburan.

World Health Organization (WHO) mengestimasikan bahwa sekitar satu dari setiap empat pasangan di negara berkembang mungkin akan terpengaruh pada masalah kesuburan. Hal ini disebut juga infertilitas "masalah kesehatan dunia" dan diperhitungkan bahwa lebih dari 10% wanita di dunia sudah terpengaruh.

According to World Health Organisation (WHO), infertility is a global public health issue and more than 10% of women worldwide are affected
According to World Health Organisation (WHO), infertility is a global public health issue and more than 10% of women worldwide are affected


"Tidak ada perbedaan signifikan" pada mereka yang memiliki nilai tes tinggi dan normal, ungkap penelitian

Sebuah penelitian baru yang dibiayai oleh National Institutes of Health (NIH) menyatakan bahwa memiliki kadar FSH dan AMH tinggi mungkin tidak bisa digunakan untuk menentukan kemungkinan hamil dalam jangka pendek.

Penelitian, yang dipublikasikan dalam jurnal medis JAMA, pada 750 wanita berusia 30 hingga 44 tahun, dari daerah Raleigh dan Durham, Carolina Utara, yang mencoba untuk hamil hingga tiga bulan antara April 2008 dan Maret 2016. Para wanita ini tidak memiliki riwayat ketidaksuburan.

Kesuburan tidak berbeda signifikan saat para wanita dibandingkan dengan kadar FSH tinggi dan normal. Setelah percobaan enam siklus mencoba hamil, hasil percobaan tidak tampak signfiikan antara para wanita dengan kadar hormon anti-Müllerian rendah dan normal – kemungkinan hamil 65%, dibandingkan dengan 62% kemungkinan.

Hasil serupa juga ditemukan dan ditunjukkan memiliki perbedaan tidak signifikan setelah 12 siklus: diperoleh angka 82% dibandingkan 75%.

"Wanita dilahirkan dengan sejumlah besar telur yang kemudian jumlahnya akan menurun seiring dengan bertambahnya usia," ungkap Esther Eisenberg dari Fertility and Infertility Branch of NIH’s Eunice Kennedy Shriver National Institute of Child Health and Human Development.

"Penelitian menunjukkan bahwa menguji biomarker ovarium tidak bisa digunakan untuk memprediksi kemungkinan hamil pada wanita berusia lebih tua yang masih berada dalam usia reproduktif."

Dr Anne Steiner, a professor at the University of North Carolina School of Medicine (UNC). Photo credit: UNC Fertility
Dr Anne Steiner, a professor at the University of North Carolina School of Medicine (UNC). Photo credit: UNC Fertility


"Penemuan kami menjawab asumsi klinis yang menyebutkan bahwa jumlah telur sangat berhubungan dengan infertilitas, tetapi hasil penemuan ini penting bagi para wanita," ungkap kepala penelitian Dr Anne Steiner, profesor dari Fakultas Kedokteran Universitas Carolina Utara.

Usia masih menjadi prediktor terbaik untuk kemampuan wanita untuk hamil," ungkap Dr Steiner. "Banyak wanita menikah di usia matang. Mereka tentu sudah menyadari penurunan kesuburan disebabkan penambahan umur mereka. Ada yang melakukan tes untuk mengetahui kesuburan mereka. Ada juga yang menggunakan tes tersebut untuk membantu mengambil keputusan untuk membekukan telur mereka."

Meskipun terkejut dengan hasil penelitian ini, namun Steiner mengatakan bahwa ia pikir konsentrasi AMH dan FSH dalam darah masih bisa digunakan untuk memprediksi jumlah telur yang bisa digunakan untuk fertilisasi in vitro (IVF).

"Apakah mereka memprediksi kehamilan setelah IVF masih belum jelas," katanya. "Beberapa penelitian menunjukkan bahwa ada wanita yang sudah memprediksi kelahiran bayi hidup setelah IVF, ada juga yang tidak."

Kualitas dibandingkan jumlah telur

Dalam hal penurunan kesuburan pada wanita berusia 40 dan di atasnya, Steiner percaya bahwa kualitas, bukan kuantitas, telur mereka yang merupakan faktor penentu kesuburan.

"Seiring dengan bertambahnya usia, kualitas telur juga menurun," katanya. "Saat telur difertilisasi, embrio yang dihasilkan cenderung akan menjadi aneuploid, atau tidak memiliki jumlah kromosom normal. Inilah mengapa wanita cenderung tidak bisa hamil... kemungkinan karena keguguran, dan memiliki risiko lebih tinggi memiliki bayi dengan Down sundrome, seiring dengan pertambahan usia wanita."

"Bukan angkanya ... Inilah apa yang saya sukai saat mempelajari mengenai wanita," ungkapnya.

Dalam penelitian terpisah di tahun 2012, Dr Jennifer Kawwass, asisten profesor di Fakultas Kedokteran Universitas Emory mengatakan, "Jumlah telur tidak bisa digunakan untuk memprediksi kondisi kesuburan seorang wanita tanpa riwayat jelas kesuburannya."

Parameter jumlah telur, tambahnya, akan berguna untuk memprediksi dosis obat dan respon telir terhadap terapi fertilitas.

"Kesuburan menurun seiring dengan pertambahan usia pada semua wanita dengan tes telur. Saya seringkali memberitahu pasien, 'usia akan mengganggu terapi kesuburan pada wanita'," catat Dr Kawwass. MIMS

Bacaan lain:
Transplantasi rahim sekarang bisa dilakukan pada manusia
Rahim buatan untuk masa depan masalah fertilitas dan perawatan neonatus
Bisnis "sewa rahim" berkembang pesat di Laos, setelah bisnis ibu sewaan dilarang di negeri tetangga

Sumber:
http://edition.cnn.com/2017/10/10/health/fertility-tests-eggs-study/index.html
https://www.nih.gov/news-events/news-releases/ovarian-reserve-tests-fail-predict-fertility-nih-funded-study-suggests
http://www.medscape.com/viewarticle/886807
https://uncfertility.com/our-center/meet-our-team/