Yang miskin tidak boleh sakit – apalagi sakit kanker.

Harga obat kanker yang meningkat drastis menjadi topik kontroversial di industri kesehatan – bahkan di negara-negara yang menyediakan asuransi kesehatan bagi warganya. Pemerintah kesulitan memberikan akses ke obat onkologi karena harus mengatasi tekanan dari industri farmasi untuk meningkatkan harga untuk inovasi dan perkembangan ranah ini.

Regulasi ketat pada keamanan dan efikasi obat seringkali disebut sebagai pengarah utama yang mendorong peningkatan biaya perkembangan obat. Meskipun estimasi industrial sangat bervariasi, namun penelitian yang dipublikasikan oleh Tufts Center for the Study of Drug Development mengeluarkan angka di bawah USD2,6 miliar.

Kontroversi laporan

Tuft memeriksa 100 obat baru; bukan hanya yang digunakan untuk mengobati kanker. Meskipun demikian, kritikan menyebutkan bahwa laporan ini tidak jelas karena penelitian mendapat pembiayaan sponsor dari industri farmasi dan detail perkembangan obat – daftar obat yang digunakan saat analisis dan biaya penelitian klinis – tidak ditunjukkan untuk publik.

Panggilan agar lebih transparan saat perhitungan angka ini dikeluarkan, karena harga obat sekarang harus disesuaikan dengan pembayar pelayanan kesehatan. Detail ini juga penting bagi pemerintah untuk mengevaluasi klaim kontroversial bahwa harga tinggi bisa disesuaikan dengan biaya perkembangan obat yang mahal.

Penelitian terpisah yang dipublikasikan dalam JAMA International Medicine menentang konsensus industri yang menunjukkan angka USD 2,6 miliar dan menyebutkan harga untuk pengembangan obat kanker tidak sampai USD648 juta.

The soaring prices of cancer drugs are limiting patient access to life-saving drugs.
The soaring prices of cancer drugs are limiting patient access to life-saving drugs.


Menggunakan data dari US Securities and Exchange Commission yang berasal dari sepuluh industri farmasetika, kelompok peneliti – dari Oregon Health and Science University dan Memorial Sloan Kettering Cancer Centre – mengestimasikan bahwa biaya kumulatif Research and Development (R&D) dari inisiasi perkembangan obat hingga tanggal persetujuan regulator.

Mereka menemukan bahwa total pendapatan penjualan oleh perusahaan ini setelah persetujuan adalah USD67,0 miliar dibandingkan dengan USD7,2 miliar yang dihabiskan untuk R&D.

"Dalam periode waktu yang sempit, biaya perkembangan lebih dari yang dibutuhkan, dan beberapa industri meningkatkan biaya R&D hingga lebih dari 10 kali lipat daripada biaya yang benar-benar digunakan – jumlah yang tidak bisa ditemukan dalam sektor ekonomi lain," tulis penulis.

Dr Vinay Prasad, salah satu dari dua penulis laporan, mengatakan, "Sistem yang ada sekarang mengenai biaya obat tidak bisa diakses bebas di pasaran, tetapi mencurangi pasar, karena selama ini industri farmasi diizinkan untuk menentukan sendiri biaya obat dan pemerintah tidak bisa melakukan negosiasi atau mengatakan tidak – setidaknya untuk obat kanker."

Batasan penelitian

Sejak publikasi, laporan penelitian sudah banyak disebutkan dalam portal berita kesehatan, dan tentu saja, menarik banyak kritik disebabkan banyaknya keterbatasannya.

Pada satu penelitian, ukuran sampel kecil, sebagaimana yang dilaporkan oleh penulis penelitian sendiri, dan disebutkan sebagai "batasa penting" penelitian mereka. Kumpulan data hanya berisi sekitar 15% entitas molekul kanker baru di waktu penelitian dilangsungkan. Selain itu, peneliti juga menggunakan data sekunder (SEC filings) yang mungkin tidak konsisten atau tidak banyak dicatat, dan kemungkinan bisa mengganggu akurasi dan presisi perhitungan peneliti.

Industri farmasi juga merupakan hasil penemuan penting dari penelitian. PhRMA, kelompok industri Amerika, mengatakan hasil penelitian tidak merefleksikan biaya tinggi kegagalan perkembangan obat. karena mayoritas obat kanker tidak berhasil mencapai tahap akhir persetujuan FDA.

Meskipun demikian, penulis mencatat perbedaan ini bisa dengan mudah diatasi jika industri farmasi memperbolehkan publik mengakses data, sehingga analis bisa ikut memeriksa data ini.

Dr Prasad mengatakan "... salah satu batasan utama yang adalah adalah bagaimana cara bekerja sama dengan mereka [strategi untuk menurunkan harga obat] menjadi argumen yang terus menerus ada karena inovasi membutuhkan biaya R&D yang sangat besar. Dan apa yang kami temukan adalah: pengeluaran R&D, yang masuk akal dan penting, tidak sebenarnya sebesar yang selama ini diestimasikan oleh kelompok Truft – estimasi tidak transparan. Dengan demikian masih ada ruang untuk menurunkan harga obat tanpa mengganggu inovasi yang ada." MIMS

Bacaan lain:
FDA menghentikan penelitian obat leukemia setelah ada empat pasien meninggal
Obat "lepas lambat" yang sebenarnya
Apoteker: Obat yang bisa menyebabkan flatulens

Sumber:
http://csdd.tufts.edu/news/complete_story/tufts_csdd_rd_cost_study_now_published
http://jamanetwork.com/journals/jamainternalmedicine/fullarticle/2653012 
http://www.healthline.com/health-news/648-million-to-develop-new-cancer-drug#1 
http://www.medscape.com/viewarticle/885493 
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/09/11/550135932/r-d-costs-for-cancer-drugs-are-likely-much-less-than-industry-claims-study-finds 
http://jamanetwork.com/learning/audio-player/14718066