Bahkan di zaman modern sekarang, masih ada perbedaan antar jenis kelamin yang satu dengan yang lain – khususnya dalam sistem praktis dimana pria memiliki sejarah panjang dalam memegang tanggung jawab penelitian medis. Fakta ini didukung oleh gubungan bukti penelitian yang menunjukkan jenis kelamin tertentu bisa mengarahkan ke diagnosis penyakit berbeda.

Peneliti menganggap perbedaan ini jelas adanya di semua tingkatan pelayanan kesehatan, mulai dari kunjungan periksa hingga perawatan di bangsal. Tidak bisa dipungkiri lagi bahwa bias jenis kelamin bisa mengganggu proses diagnosis akurat – memicu kesenjangan intervensi medis dan angka mortalitas yang lebih tinggi pada wanita, terutama dalam hal penyakit jantung koroner (PJK).

Selain itu, saat media menyebutkan bagaimana Maria Menounos, seorang selebriti, yang tumor otak tidak ganasnya terlambat didiagnosis, bias jenis kelamin mungkin hanya tampak sebagai mitos belaka. Namun tidak begitu halnya jika kita hidup di masa sekarang.

Mayoritas wanita masih terus menghadapi skeptisme dalam masalah kesehatan mereka. Dan para dokter segera mengirim mereka pulang dan mengatakan bahwa masalahnya ada pada masalah emosi dan psikologis. Beberapa dokter bahkan merujuk para wanita ini untuk evaluasi psikologis bukannya mencari diagnosis akurat.

"Semuanya hanya asumsi saja"

Beberapa wanita melaporkan bahwa banyak dokter menganggap mereka tidak rasional atau lebih beremosi daripada pria – dan kemudian mengatakan bahwa 'masalahnya hanya ada dalam pikiran'; bukannya memeriksa sumber nyerinya. Sebaliknya, pria seringkali dianggap lebih rasional dan saat mereka mengeluhkan nyeri akut – dokter akan menganggap gejala mereka secara serius dan menyebut rasa nyeri ini muncul karena masalah fisik bukan mengasumsikan adanya masalah emosi.

Penelitian klinis menemukan bahwa meskipun tes klinis menunjukkan bahwa nyeri yang dirasakan para wanita benar-benar ada penyebabnya, namun para dokter cenderung menganggap rasa nyeri ini sebagai masalah emosi bukan fisik. Peneliti J. Crook dan E. Tunks mencatat bahwa wanita dengan kondisi nyeri kronis cenderung lebih sering mengalami salah diagnosis menjadi kondisi gangguan kesehatan mental, dibandingkan para pria – dan diresepkan obat psikotropik, karena para dokter menerjemahkan gejala mereka sebagai histeria.

Peneliti Karen Calderone menemukan bahwa para wanita cenderung diberikan sedatif sebagai terapi, bukannya obat penghilang nyeri, yang cenderung diresepkan untuk jenis kelamin berbeda. Sudah jelas bahwa para dokter lebih menyukai memindahkan prioritas mereka dari mengatasi masalah sebenarnya para wanita menjadi mengambalikan status mereka menjadi 'tenang dan rasional'.

Pemindahan ini mengartikan para wanita merasa nyeri parah dalam periode waktu lebih panjang daripada pria, karena sedatif mungkin membuat mereka lebih tenang di luar, dan menutupi gejala mereka yang tidak berhasil didiagnosis.

Juga, penelitian menemukan bahwa pasien pria secara konsisten diberikan lebih banyak waktu dan perhatian dari tenaga kesehatan dibandingkan pasien wanita dengan gejala yang sama persis. Dalam kasus pengujian, perawat diberikan sketsa dengan pasien imajiner, mendaftarkan gejala dan riwayat kesehatan mereka. Perawat kemudian menghitung berapa banyak waktu yang diperlukan untuk terapi dan dukungan emosi. Pasien pria yang memiliki gejala dan latar belakang sama dengan pasien wanita secara konsisten mendapat alokasi waktu yang lebih panjang.

Para dokter cenderung menganggap wanita terlalu gelisah

Penyakit jantung didaftarkan sebagai penyebab kematian tertinggi pada wanita, tetapi Publikasi Kesehatan Harvard melaporkan bahwa "banyak wanita menyebutkan dokter mereka tidak pernah membicarakan mengenai risiko koroner dan terkadang tidak mengetahui gejalanya, dan salah menerjemahkannya sebagai tanda gangguan panik, stres, dan bahkan hipokondria."

Pada pelitian yang diadakan tahun 2014 oleh Universitas Joghn Hopkins, wanita penderita stroke 30% memiliki kecenderungan dibandingkan pria untuk mendapatkan kesalahan diagnosis di ruang gawat darurat.

Peneliti menunjukkan bahwa wanita dengan penyakit autoimun tidak mendapat perawatan yang sesuai. Diestimasikan bahwa sekitar 50 juta warga Amerika memiliki satu dari 100 penyakit autoimun yang diketahui – dan 75% di antaranya adalah wanita. Menurut asosiasi penelitian, rata-rata, pasien menemui empat dokter dalam waktu tiga tahun sebelum menerima diagnosis yang benar.

Hubungan antara presiden dan direktur eksekutif, Virginia Ladd, mengatakan bahwa masalah nomor satu wanita dengan penyakit autoimun adalah bahwa dokter tidak mendengarkan mereka.

Namun, sekitar 40% wanita yang kemudian diketahui memiliki penyakit autoimun serius pernah disebut sebagai pengeluh atau terlalu gelisah oleh dokter mereka.

Saat para wanita ini akhirnya mengetahui masalahnya, mereka sangat berterimakasih. "Akhirnya ada yang mau mendengarkan," kata Ladd.

Menarik sama dengan sehat

Bagi wanita lansia, mereka harus bertarung bukan hanya dengan seksisme, tetapi juga penuaan.

Penulis lepas mengenai kesehatan di Amerika, Emily Dwass, menyampaikan bahwa mertuanya (yang berusia 80an tahun) mendatangi satu per satu dokter untuk mencari bantuan untuk nyeri abdominal yang ia rasakan. Dwass menulis bahwa pada satu kali, dokter mencatat usia ibu dan kemudian menanyakan, "Apa yang Anda inginkan?" Saat dokter kembali dengan pemeriksaan akurat, ternyata ada banyak sekali kanker dalam tubuhnya.

Perbedaan jenis kelamin juga memberikan pengaruh di departemen gawat darurat. Penelitian menunjukkan bahwa pria dan wanita yang mengeluhkan nyeri abdominal parah, waktu tunggu pria adalah 49 menit dibandingkan pada wanita adalah 65 menit – dan kemudian diresepkan lebih sedikit obat penghilang nyeri bahkan saat kontrol berat badan juga diperlukan.

Ketertarikan juga bisa diartikan sebagai membutuhkan lebih sedikit terapi. Laporan penelitian berjudul "Beautiful faces in pain", menulis bahwa karena "stereotipe kuat 'cantik sama dengan sehat'" – dokter secara tidak sadar mengasumsikan mereka yang tampak 'lebih baik' dari luar, berarti lebih sehat; dan kemudian membutuhkan lebih sedikit obat. 'Bias ketertarikan' bisa mengimplementasikan bahwa rasa nyeri pada wanita seringkali tidak terlalu diperhatikan – menghasilkan outcome terapi yang lebih buruk.

Lebih ironisnya lagi – dalam dunia ilmu pengetahuan dan netral – kesenjangan jenis kelamin masih ada, dan menyebutkan bahwa prevalensi seksisme bisa menciptakan pembatas untuk para wanita untuk mencari bantuan medis.

Hingga masalah ini bisa diatasi, para wanita akan terus menderita dalam diam, terkurung dalam stereotipe henis kelamin. Ini merupakan pil pahit yang tidak boleh dibiarkan, khususnya karena pria dan wanita sudah memiliki ruang yang sama di komunitas. MIMS

Bacaan lain:

Lebih dari 20% pasien penderita kondisi serius pernah mengalami salah diagnosis
Bagaimana sensitivitas budaya bisa digunakan untuk melawan stigma sosial kanker pada wanita
Mengapa banyak wanita mulai memasuki dunia medis?

Sumber:
http://www.latimes.com/opinion/op-ed/la-oe-dwass-gender-bias-medicine-20170726-story.html
http://www.independent.co.uk/life-style/health-and-families/health-news/how-sexist-stereotypes-mean-doctors-ignore-womens-pain-a7157931.html
http://repository.uchastings.edu/hwlj/vol6/iss1/3/
www.healthline.com/health-news/gender-bias-against-female-pain-patients#1