Kebanyakan 'obat pintar' adalah obat yang diresepkan untuk melawan rasa kantuk, meningkatkan konsentrasi dan produktivitas.

Adderall dan ritalin, merupakan obat yang sering diresepkan untuk attention deficit disorder (ADD) dan attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), dan modafinil - yang disetujui penggunaannya sebagai terapi untuk narkolepsi di tahun 1998 oleh FDA. Efek jangka panjang obat tersebut masih tidak diketahui.

Efek positif obat pintar masih belum jelas, dan efek sampingnya bervariasi tergantung obat apa yang digunakan. Ritalin, misalnya, menyebabkan efek samping seperti mual, nyeri perut dan yang lebih parahnya lagi, masalah jantung dan adderal memiliki risiko efek samping ketagihan.

Modafinil, pilihan populer

Modafinil, biasa disebut sebagai obat Tidak terbatas, memiliki efek samping lebih rendah dibandingkan dua obat yang dibahas sebelumnya. Obat ini bisa diperoleh bebas dari website atau dari penjual di daerah universitas atau kampus. Obat ini banyak digunakan oleh mahasiswa di Amerika Serikat dan Inggris.

Faktanya, survey menunjukkan bahwa seperlima mahasiswa di universitas Inggris pernah menggunakan obat ini, dan 20% penggunanya mengaku menggunakannya setiap hari.

Modafinil memiliki kemampuan meningkatkan ingatan seseorang - dipercaya bisa meningkatkan ingatan hingga 10%.

"Modafinil bukan obat ajaib - obat ini tidak membuat Anda lebih menonjol dibanding orang yang tidak pernah menggunakannya. Tetapi obat ini bisa meningkatkan efisiensi Anda, sehingga Anda yang malas akan dipaksa untuk bekerja. Saya pikir orang-orang tidak akan menjadi lebih pintar karena menggunakan modafinil, tetapi membuat orang bisa bekerja sesuai dengan kemampuannya," kata Jack Rivlin.

Keamanan dan efek jangka panjang masih belum diketahui

Salah satu teorinya adalah obat ini bisa meningkatkan aliran darah ke otak sehingga otak menjadi lebih fokus dan siap belajar hal baru. Obat ini juga kemungkinan bisa meningkatkan aktivitas otak, termasuk kemampuan mengingat, berpikir dan menyelesaikan masalah.

Peneliti di universitas Harvard dan Oxford menyimpulkan bahwa obat ini aman untuk konsumsi jangka pendek, dengan beberapa efek samping, namun tanpa efek adiktif. Mereka juga menyimpulkan bahwa Modafinil, bisa meningkatkan kemampuan decision-making, problem solving, dan bahkan meningkatkan kreativitas.

Meskipun demikian, beberapa penggunanya mengeluhkan merasa gelisah, perubahan mood yang cepat, penglihatan kabur, dan menjadi sering jatuh setelah mengonsumsinya; pengguna lain melaporkan sakit kepala dan ruam, atau bergantung pada obat tersebut sehingga membuat mereka merasa lelah ketika tidak menggunakannya.

Penelitian lain oleh Dr Nora Volkow dan kolega berdasarkan pada scan PET menunjukkan bahwa dosis tinggi (400 mg) obat bisa memengaruhi bagian otak yang disebut-sebut penyebab ketergantungan obat.

Belum ada cukup penelitian mengenai efek jangka panjang Modafinil.

Dr. Peter Morgan di Fakultas Kedokteran Yale menyarankan untuk tidak menggunakan modafinil secara jangka panjang karena obat ini kemungkinan memiliki efek serupa dengan kafein atau nikotin, yang memiliki efek positif pada penggunaan jangka pendek, tetapi efeknya hilang (resisten) jika digunakan terus-menerus, dan kemudian menyebabkan defisiensi performa kognitif.

"Tidak ada alasan menganggap modafinil merupakan obat berbeda," jelasnya. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa apoteker perlu berhenti memberikan gelas dan sendok ukur
4 sumber informasi obat dan farmakologi yang wajib dimiliki
Obat yang luar-biasa mahal berhasil diproduksi hanya dengan $2 oleh siswa Australia
Obat penyakit langka - Masalah finansial yang disebabkannya