Diestimasikan ada 12,6 juta orang meninggal akibat hidup atau bekerja di lingkungan yang tidak sehat di tahun 2012. Faktor risiko lingkungan, seperti polusi udara, air, dan tanah, paparan kimia, perubahan iklim, dan radiasi ultraviolet; inilah yang menyebabkan munculnya lebih dari 100 penyakit dan cedera.

Kematian sendiri seringkali merupakan fakta yang agak mengganggu untuk dibicarakan, akan tetapi banyak orang penasaran apa yang akan terjadi pada tubuh ketika seseorang meninggal dunia.

Mungkin akan ada yang bertanya-tanya, apakah mayat masih bisa digerakkan setelah meninggal, atau bahkan bergerak sendiri; yang lain mungkin akan bertanya apa saja tanda bahwa mayat sudah mengalami pembusukan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, berikut mekanisme yang terjadi pada orang yang sudah meninggal:

Hipostasis

Hipostasis muncul ketika sirkulasi darah mulai berhenti kemudian darah tidak bisa bergerak dan kemudian ditarik ke daerah terbawah dalam tubuh, yang kemudian menyebabkan ruam pada kulit.

Pola hipostasis akan bervariasi tergantung pada postur tubuh setelah meninggal. Jika tubuh meninggal dalam posisi berbaring, dengan pundak, bokong dan betis menekan permukaan lantai, maka hipostasis tidak akan terbentuk di daerah tersebut – kulit akan tetap putih. Ketika tubuh berbaring selama beberapa waktu tertentu di satu sisi atau wajah, hipostasis akan terdistribusi secara merata, lagi dengan daerah tekanan akan tetap putih.

Warna hipostasis biasanya adalah merah kebiruan, tetapi banyak variasi lainnya. Mekanismenya belum diketahui dengan jelas, tetapi yang jelas karena terbentuknya oksihemoglobin.

Rigor mortis (kekakuan)

Tidak seperti hipostatis, kekakuan otot setelah kematian sangat berguna untuk menentukan interval post-mortem (PMI). Telah diketahui sejak zaman dahulu bahwa segera setelah kematian, mayat akan mengalami perubahan di ototnya, biasanya akan menyebabkan kekakuan sebagian atau total, yang kemudian menjadi awal terjadinya dekomposisi.

Rigor muncul dalam semua jaringan otot dan organ, begitu juga dengan otot skeletal. Iris mata juga bisa terpengaruh sehingga menyebabkan modifikasi konstriksi atau dilatasi antemortem. Rigor mungkin muncul secara tidak sama di setiap mata, membuat pupil mata tampak tidak sama.

Spasme kadaverik merupakan topik yang banyak diperdebatkan bahkan di kalangan para ahli. Spasme kadaverik merupakan spasme yang terjadi pada orang yang sudah meninggal sebelum mencapai rigor. Kemungkinan karena diinisiasikan oleh kerja saraf motorik, dan biasanya memengaruhi hanya sekelompok otot saja, seperti fleksor di satu tangan, bukan di keseluruhan tubuh. Spasme inilah yang menyebabkan sebagian tubuh mayat tampak bergerak dengan sendirinya.

Dekomposisi post-mortem

Hipostasis dan dekomposisi bisa muncul relatif lebih cepat setelah kematian ketika kematian somatik telah muncul, tetapi kematian selular belum terjadi secara total. Dekomposisi sendiri merupakan campuran proses, mulai dari autolisis sel hingga autolisis jaringan dan saat dimana bakteri dan jamur usus dan lingkungan mulai memainkan peran.

Dekomposisi bisa terjadi berbeda antara satu mayat dengan mayat yang lain, antara lingkungan yang satu dengan lingkungan lain, dan bahkan dari satu bagian tubuh mayat ke bagian lain. Beberapa bagian mungkin akan tampak berkulit, mengalami pengawetan mumifikasi, sedangkan yang lainnya mengalami putrefaksi.

Waktu dekomposisi bisa sangat bervariasi tergantung situasi dan ilkim, dan bahkan pada satu mayat yang sama: kepala dan lengan bisa jadi sudah mengalami skeletalisasi, sedangkan kaki dan tubuh lain, yang dilindungi baju, hanya sedikit terpengaruh.

Putrefaksi

Proses pembusukan mayat dimulai di waktu yang bervariasi setelah meninggal, tetapi dalam suhu normal, rata-rata akan dimulai pada 3 hari setelah seseorang meninggal.

Tanda pertama yang bisa ditemukan dari mata telanjang adalah diskolorasi dinding abdominal bagian bawah. Diskolorasi ini menyebar dengan cepat ke seluruh abdomen, yang di fase selanjutnya akan menjadi terisi gas.

Di fase ini, bakteri akan mulai mengubah warna jaringan lembut dan menyebabkan edema. Wajah dan leher akan berubah menjadi kemerahan, dan menjadi bengkak. Setelah beberapa minggu, warnanya akan berubah menjadi hijau gelap atau hampir hitam.

Pembentukan adipocere

Perubahan post-mortem yang paling penting dan banyak terjadi adalah pembentukan adipocere. Istilah adipocere ini berasal dari Bahasa latin, yaitu Adeps = lemak, dan cera = lilin), atau substansi berlilin yang berasal dari lemak tubuh.

Dikatakan bahwa kehangatan tertentu merupakan hal penting untuk pembentukan adipocere.

Waktu untuk produksi adipocere masih menjadi kontroversi. Seorang penulis menyebut dibutuhkan waktu 3-12 bulan, namun yang lain menyebutkan 6 bulan.

Mumifikasi

Jenis ketiga dari perubahan jangka panjang setelah kematian adalah mumifikasi. Seperti proses dekomposisi lain, mumifikasi bisa terjadi hanya pada sebagian tubuh atau bisa muncul bersamaan di beberapa bagian tubuh berbeda.

Mumifikasi hanya bisa terjadi di lingkungan kering dan juga di lingkungan beku, sebagian karena keringnya udara dan sebagian karena penghambatan pertumbuhan bakteri.

Bertahun-tahun yang lalu, mumifikasi sudah diterapkan oleh bangsa Mesir. Syarat untuk mumifikasi adalah lingkungan yang kering, diusahakan dengan ventilasi udara.

Demikian beberapa proses yang terjadi pada tubuh manusia setelah meninggal. Pemahaman proses kematian ini banyak digunakan oleh ahli forensik untuk mengetahui interval waktu kematian korban kejahatan atau bencana alam dan penyebabnya. Bahkan ada juga yang perlu mempelajari pola hidup belatung atau organisme pemakan mayat demi mendapat informasi data yang lebih akurat. MIMS

Bacaan lain:
Racun saraf VX: Pembunuhan kakak tiri penguasa Korea Utara, Kim Jong Nam
Berkontribusi ke dunia kesehatan dengan mendonasikan catatan riwayat medis pasien
Mengapa menerima organ dari orang yang sudah meninggal bisa menimbulkan kanker
Organ baru dalam tubuh manusia: mesentrium


Sumber:
http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2016/deaths-attributable-to-unhealthy-environments/en/
Saukko P and Knight B. 2016. Knight’s Forensic Pathology Fourth Edition. Taylor & Francis Group: Boca Raton.