Ditemukannya antibiotik merupakan sebuah terobosan besar dalam dunia medis. Meskipun demikian, bakteri dan mikroba mulai berevolusi dan menjadi resisten terhadap antibiotik - hasilnya, terapi standar menjadi tidak efektif, infeksi menetap dan penularan.

Resistensi antimikroba merupakan satu masalah di dunia selama beberapa tahun terakhir. Di tahun 2014, World Health Organization (WHO) mengeluarkan laporan yang berisi ancaman resistensi antimikroba. WHO menyatakan bahwa selama 30 tahun terakhir, tidak ada antibiotik yang berhasil dikembangkan, meskipun banyak kasus resistensi obat sudah banyak terjadi di dunia.

Kemudian, pada Maret 2015 - 68th World Health Assembly - WHO mengeluarkan rencana global untuk melawan resistensi antimikroba. Masalah ini diangkat kembali pada September 2016, saat United Nations General Assembly di New York.

Masalah di Asia Tenggara

Hanya ada sedikit penelitian epidemiologi mengenai masalah ini di daerah Asia Tenggara dan di daerah lainnya. Meskipun demikian, berdasarkan penelitian pada beberapa penyakit tertentu, masalah ini seringkali tidak dihiraukan.

Tiga puluh tahun lalu, gonorrhea bisa diterapi secara efektif dengan penicillin. Sekarang, sudah banyak resistensi terjadi pada penicillin dan fluoroquinolon.

Faktanya, fluoroquinolon, yang menargetkan DNA gyrase dan topoisomerase IV dari berbagai bakteri berbeda untuk mengganggu replikasi DNA dan mematikan sel, merupakan dasar dari regimen terapi tuberkulosis. Dengan demikian, resistensi Mycobacterium tuberculosis terhadap antibiotik ini menjadi satu masalah besar.

Selain itu, ada juga yang melaporkan lebih dari 50% Staphylococcus aureus terisolasi resisten terhadap meticilin di rumah sakit. Selain itu, methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) disebut sebagai 'superbug' karena bakteri ini resisten terhadap sejumlah jenis antibiotik. Hal ini membuat bakteri ini menjadi penyebab infeksi paling mengganggu di rumah sakit.

Penyebab resistensi antimikroba

Penyebab paling umum dari ancaman ini adalah penggunaan berlebih dan kesalahan penggunaan antibiotik. Antibiotik diciptakan untuk terapi infeksi bakteri dan bukan infeksi virus seperti influenza, sakit tenggorokan dan flu.

Penggunaan berlebih antibiotik bisa menyebabkan resistensi. Hal ini bisa terjadi saat pasien mengonsumsi antibiotik tanpa sepengetahuan dokter. Terkadang dokter menduga terdapat infeksi, atau salah mengira infeksi virus menjadi infeksi bakteri.

Bahkan penggunaan terapeutik antibiotik juga bisa menyebabkan resistensi - apalagi penggunaan antibiotik non-terapeutik pada hewan. Misalnya, antibiotik digunakan pada hewan untuk meningkatkan efisiensi pemberian makan dan menambah berat badan. Maka, US Food and Drug Administration mengeluarkan panduan di tahun 2012 yang membatasi penggunaan antibiotik pada hewan.

Penyebab lain adalah cara memproses makanan dan sanitasi yang buruk. Kurangnya higienitas pada sanitasi individu dan lingkungan seperti suplai air dan sistem pembuangan kotoran yang bisa menyebabkan penyebaran infeksi resisten antibiotik.

Efek resistensi antimikroba

Saat antibiotik tidak efektif untuk terapi penyakit infeksi, infeksi menjadi semakin lama, yang kemudian meningkatkan biaya pengobatan. Di Amerika, menurunkan kasus resistensi antimikroba sebesar 20% hingga 30% akan menghemat USD3,2 hingga 5,2 miliar per tahun, belum termasuk penghematan tambahan sebesar USD11,3 juta saat bisa mengurangi lamanya rawat inap pasien.

Penyakit yang lebih sulit juga membutuhkan obat yang lebih poten, yang lebih mahal. Misalnya, obat yang digunakan untuk tuberkulosis resisten banyak obat (MDR-TB) 100 kali lebih mahal dibandingkan obat lini pertama terapi penyakit ini.

Selain itu, prosedur besar seperti transplantasi organ, kemoterapi kanker, manajemen diabetes, dan operasi tertentu termasuk operasi cesarean atau perubahan posisi panggul bisa jadi berbahaya, tanpa antibiotik efektif.

Kondisi ini menjamin diperlukannya jenis obat antimikroba baru. Baru-baru ini, WHO juga mengeluarkan daftar patogen prioritas pertama yang membutuhkan antibiotik baru, termasuk Acinetobacter baumanniiPseudomonas aeruginosa, dan Enterobacteriaceae yang berada di daftar Prioritas 1 (penting). MIMS

Bacaan lain:
WHO mengumumkan 12 superbug yang bisa menjadi ancaman terbesar dalam kehidupan manusia
Satu-dua serangan obat bisa digunakan untuk melawan superbug
Apakah WHO secara tidak sengaja tidak memasukkan TB dari daftar prioritas?


Sumber:
http://www.who.int/antimicrobial-resistance/publications/infographic-antimicrobial-resistance-20140430.pdf?ua=1
http://emerald.tufts.edu/med/apua/consumers/personal_home_5_1451036133.pdf
http://www.nehi.net/bendthecurve/sup/documents/Antibiotic_Overuse_Brief.pdf
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3028949/
http://www.who.int/mediacentre/news/releases/2017/bacteria-antibiotics-needed/en/
http://www.cell.com/trends/microbiology/fulltext/S0966-842X(14)00089-4
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3768864/
https://www.fda.gov/ForConsumers/ConsumerUpdates/ucm349953.htm