Dideskripsikan sebagai "sehat dan kuat", Briony Caitlin Klingberg telah mengunjungi banyak dokter sebelum ia kemudian meninggal akibat infeksi virus herpes simplex (HSV) dua tahun lalu. Virus berhasil didiagnosis melalui biopsy hati setelah kematiannya.

Kolonel Australia Selatan Mark Johns mengatakan "tidak ada tenaga kesehatan" memiliki kesempatan untuk memeriksa perkembangan penyakit dan penurunan kondisi anak ini.

Kesalahan diagnosis setelah memeriksakan diri ke beberapa dokter

Ketika Briony mulai mengalami demam, ibunya, Bridget Klingberg, membawanya ke Rumah Sakit Ibu dan Anak Adelaide dimana seorang dokter senior, Davinder Gill, mendeteksi ulkus kecil di tenggorokannya, dan menyarankan sang anak untuk dirawat inap agar bisa diketahui perkembangannya atau dipulangkan jika keluarga tidak bersedia.

Dalam penyelidikannya, sang kolonel menemukan bahwa, "Ia berkata bahwa ia dan suaminya memiliki perasaan bahwa mereka tidak perlu kembali periksa lagi kecuali kondisi Briony semakin memburuk."

"Akhirnya, mereka memutuskan untuk tidak kembali ke Rumah Sakit Ibu dan Anak. Namun, mereka membawa anak mereka ke rumah sakit lokal di Mount Barker dengan asumsi bahwa mereka akan menyarankan untuk membawa Briony ke Rumah Sakit Ibu dan Anak jika memang dibutuhkan."

Di Rumah Sakit Mount Barker, Briony didiagnosis infeksi virus, dan diberikan prednisolon. Dokter meminta ia agar melakukan pemeriksaan kembali sehari setelahnya. Saat pemeriksaan tersebut, ia merasa kondisi sang anak sudah sedikit membaik.

"Ibu Klingberg mengatakan bahwa ia tidak percaya bahwa kondisi Briony lebih baik, tetapi mempercayai bahwa ini merupakan fakta sebenarnya," kata Johns.

"Ia tidak berargumen dan menerima saran dokter untuk membawa Briony pulang dan menjaga asupan cairan dan obatnya, termasuk prednisolon."

Johns merasa bahwa jika mereka kembali ke rumah sakit pertama, kondisi Briony mungkin akan mendapat prosedur pemeriksaan yang lebih baik.

"Perbandingan demikian memicu banyak masalah dan membuat mereka mencari investigasi lebih lanjut."

Dokter keluarga tidak mencatat "keanehan" hasil tes

Dokter keluarga mereka, Christopher Heinrich, yang mendiagnosis gejalanya sebagai infeksi kelenjar, memberikan injeksi antibiotik dan memerintahkan tes darah.

Kolonel mengatakan bahwa Heinrich gagal mencatat observasi selama konsultasi. Ia menambahkan bahwa dokter mengambil hasil tes darah melalui telepon tanpa menulisnya dan seharusnya ia langsung merujuk sang anak ke rumah sakit.

"Dalam mengatakan hal ini saya menyadari fakta bahwa dengan demikian, semuanya telah terlambat untuk menyelamatkan nyawa Briony," tambah Johns.

"Dengan demikian, masalah serius ini muncul akibat sikap yang tidak seharusnya dilakukan seorang dokter."

Berlanjutnya terapi merupakan hal penting untuk diagnosis akurat Melihat anak ini tidak sehat dan kesulitan saat urinasi, Heinrich membawanya ke Rumah Sakit Ibu dan Anak. Namun, Briony pingsan di tempat parkir sebelum mencapai departemen gawat darurat, dan dimasukkan ke ruang perawatan intensif hingga akhirnya ia meninggal di hari selanjutnya.

Pengadilan mengatakan bahwa Gill mengaku ia seharusnya membuat diagnosis berbeda, tetapi tidak akan terlalu mengubah terapi Briony.

"Dr Gill mengatakan bahwa ia telah banyak melihat kasus HSV dan ini merupakan penyakit yang banyak terjadi, meskipun jarang dalam kelompok usia Briony," kata kolonel.

"Ia mengatakan bahwa ia pikir ulkus kecil yang ia lihat di tubuh Briony hanya sedikit tidak biasa, tetapi bukan sangat tidak biasa, dan konsisten dengan faringitis."

Di sisi lain, dokter di Rumah Sakit Mount Barket, Christopher Say, dideskripsikan oleh kolonel sebagai dokter yang "perhatian dan teliti" dan "benar-benar khawatir saat mendengar kematian tragis yang dialami Briony". Saat diketahui penyebab kematiannya, John mengungkapkan pentingnya perawatan medis yang berkelanjutan dan menyarankan kampaye komunitas yang bisa membuat orangtua menjadi lebih paham.

"Saat membuat pemeriksaan ini saya merasa masalahnya juga berasal pada ibu dan ayah Briony," kata Johns.

"Penting bahwa Rumah Sakit Ibu dan Anak dan semua praktisi lain yang merawat anak-anak agar mau mendorong orangtua dan perawat agar kembali periksa demi menghindari berhentinya terapi yang berkelanjutan." MIMS

Bacaan lain:
Malpraktek oleh apoteker: Kekeliruan, kelalaian dan penyalahgunaan
Mata seorang anak berusia 4 tahun tidak sengaja dilem oleh dokter
Seorang perawat meninggalkan pasien demensia di tempat penyimpanan rumah sakit sepanjang malam
Dehidrasi parah membuat seorang anak menghisap tissue basah dan meninggal