Datang ke rumah sakit untuk dialisis merupakan kegiatan yang melelahkan. Meskipun merasa takut dan tidak yakin dengan penggunaan mesin, pasien harus melakukan hemodialisis setidaknya sekitar tiga kali seminggu, dalam waktu hingga empat jam untuk setiap sesinya. Dialisis ginjal bukan hanya prosedur yang menyelamatkan hidup pasien, tapi juga mengubah hidup mereka.

Meskipun demikian, karena hemodialisis sangat bergantung pada sumber daya, berbagai jenis metode terapi di rumah seperti Continuous Ambulatory Peritoneal Dialysis (CAPD) diperkenalkan. Berbeda dengan hemodialisis yang menyaring darah, CAPD dilakukan dengan memasukkan cairan dari formulasi khusus ke perut (dimasukkan melalui kateter) sekaligus selama beberapa jam untuk mengeluarkan limbah tubuh. Pada artikel ini, kami akan memaparkan kelayakan metode dialisis di rumah sebagai terapi alternatif hemodialisis.

CAPD kurang dimanfaatkan di negara maju

Baru-baru ini, Canadian Agency for Drugs and Technologies in Health (CADTH) merilis laporan yang merekomendasikan agar lebih banyak penderita penyakit ginjal stadium akhir untuk mempertimbangkan metode dialisis di rumah sebagai terapi.

"Bukti menunjukkan bahwa terapi dialisis di rumah sakit dan di rumah memberikan hasil klinis serupa," tutur Dr Brian O'Rourke, Ketua dan CEO dari CADTH.

Orang mungkin berpikir bahwa metode terapi ini bisa menimbulkan infeksi dan komplikasi yang, namun laporan penelitian tidak ditemukan perbedaan antara kedua jenis dialisis dalam kualitas hidup atau kelangsungan hidup pasien.

Hal ini terbukti dari penelitian yang menunjukkan bahwa pasien yang melakukan hemodialisis dua kali lebih mungkin menjalani rawat inap pada tahun pertama terapi dibandingkan dengan pasien dengan CAPD.

Selain itu, metode dialisis di rumah juga membutuhkan biaya jauh lebih rendah dibandingkan dengan hemodialisis di rumah sakit. Sebagai contoh, sebuah studi di India memperkirakan bahwa biaya bulanan terapi di rumah setara dengan tiga sesi hemodialisis. Di Amerika Serikat, pasien dapat menghemat lebih dari USD 43.000 per tahun saat melakukan CAPD.

Banyak pasien hemodialisis merasa sangat tertekan

Apa yang dipikirkan pasien? Meskipun dialisis di rumah tampak nyaman, pasien masih harus mengganti cairan dialisat sekitar empat hingga lima kali sehari. Menariknya, penelitian menunjukkan bahwa pasien yang melakukan CAPD sebenarnya lebih bahagia daripada yang melakukan hemodialisis.

Pasien yang melakukan terapi di rumah merasa bahwa mereka memiliki kontrol lebih terhadap perawatannya, meningkatkan fleksibilitas dan mengurangi keterbatasan sosial sehari-hari. Di sisi lain, pasien hemodialisis cenderung lebih tertekan, karena hubungan tenaga medis-pasien yang cenderung buruk di rumah sakit, akses yang sulit (terutama pasien yang tinggal di daerah pedesaan) dan waktu tunggu yang lama.

"Kami tahu bahwa pasien dan tenaga kesehatan menentukan pilihan terapi yang paling nyaman dan tidak mengganggu kehidupan sehari-hari pasien," komentar Dr Manish Sood, seorang ahli nefrologi serta penulis di CADTH.

"Bagi banyak pasien, dialisis di rumah merupakan terapi alternatif yang aman dan paling disukai daripada harus melakukannya di rumah sakit dan saya berharap, dengan rekomendasi dari bukti laporan CADTH ini, kita dapat memulai membicarakan topik nasional tentang peran terapi alternatif ini di Kanada," tambahnya.

Respite nurse at Active Global Sangeeta Kaur demonstrating steps in the continuous ambulatory peritoneal dialysis process. Photo credit: Active Global/The Straits Times
Respite nurse at Active Global Sangeeta Kaur demonstrating steps in the continuous ambulatory peritoneal dialysis process. Photo credit: Active Global/The Straits Times

Tren global tampaknya mendukung CAPD daripada hemodialisis

Sementara Kanada fokus untuk meningkatkan terapi dialisis di rumah untuk pasien, bagaimana dengan negara di Asia? Data saat ini memperkirakan bahwa sekitar 218 pasien per satu juta penduduk di Asia melakukan CAPD. Angka ini diperkirakan akan meningkat dua kali lipat pada tahun 2030. Asia menampilkan variasi pengguna CAPD terbesar, mulai dari 3% di Jepang hingga 73% di Hong Kong.

Menurut penelitian yang dilakukan oleh Center for Health Economics and Policy Studies (CHEPS) Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia pada 3 rumah sakit di Jakarta dan Bandung yang melibatkan 120 pasien gagal ginjal stadium akhir, menyatakan bahwa rata-rata seorang pasien gagal ginjal kronik mengeluarkan biaya untuk hemodialisis sekitar Rp 115 juta pertahun, sedangkan dengan terapi CAPD diperlukan biaya setidaknya Rp 130 juta pertahun. Namun, kualitas hidup pasien yang menjalani terapi CAPD lebih baik. Selain itu, hemodialisis dapat menghabiskan penghasilan pasien mencapai IDR 9 juta karena harus ke rumah sakit dua kali seminggu, belum biaya transportasi dapat menghabiskan sekitar IDR 5,2 juta. Sedangkan pasien yang menjalani CAPD hanya menghabiskan IDR 3 juta untuk hal tersebut. Penelitian ini juga menyimpulkan, CAPD berpotensi menghemat dana JKN sebesar IDR 48 juta lebih per orang per lima tahun.

Trends in the prevalence of patients on peritoneal dialysis in Asia between 1999 and 2013. Source: Nature Reviews Nephrology
Trends in the prevalence of patients on peritoneal dialysis in Asia between 1999 and 2013. Source: Nature Reviews Nephrology

Terapi dialisis di rumah tentu bisa sangat membosankan. Pelatihan, pemahaman dan kepatuhan pasien yang baik sangat penting agar terapi ini bisa berjalan secara efektif. Sayangnya, komponen ini sangat bergantung pada faktor sosiodemografi dan standar medis dasar dari masing-masing daerah.

Meskipun demikian, secara global ada sekitar 11% populasi pasien dialisis saat ini yang melakukan prosedur CAPD, dengan tingkat pertumbuhan pengguna sebesar 8% per tahun (lebih tinggi daripada hemodialisis)5. Ditambah dengan kemajuan dalam bidang pelayanan kesehatan, metode terapi dialisis di rumah nampak akan menyaingi hemodialisis dalam waktu dekat. MIMS

Bacaan lain:
Update terbaru panduan NICE: Statin untuk semua pasien gagal ginjal kronis
Kriteria baru nilai tekanan darah dalam panduan AHA – Apakah Anda berisiko hipertensi?
"Diagnosis awal merupakan sesuatu yang penting", sebut NICE dalam panduan terapi endometriosis baru

Sumber:
http://www.newswire.ca/news-releases/cadth-expert-panel-recommends-home-based-dialysis-in-patients-with-end-stage-kidney-disease-656169063.html
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/19670954
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3263061/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3138410/
https://www.nature.com/articles/nrneph.2016.181
https://www.nephrologynews.com/making-the-case-for-in-center-self-care-hemodialysis/ http://www.straitstimes.com/singapore/health/taking-charge-in-the-home-dialysis-process?login=true
https://www.nst.com.my/news/nation/2017/10/295017/dr-hilmi-suggests-capd-home-dialysis-kidney-patients-rural-areas
https://www.hindawi.com/journals/ijn/2017/5819629/
http://sains.kompas.com/read/2017/04/10/14181231/terapi.cuci.darah.lewat.perut.lebih.efisien.dan.murah