Sebelumnya Cina banyak dikenal sebagai tempat produksi yang murah, namun baru-baru ini Cina terlahir kembali dengan kemampuan bioteknologi tinggi disebabkan tingginya investasi dan regulasi yang tidak terlalu ketat.

Investor dan pengusaha mengatakan bahwa Cina mungkin akan segera mengalahkan lawan Baratnya - diarahkan dengan banyaknya talenta asing yang masuk ke Cina, dan banyaknya perusahaan baru - semua ini dilakukan demi menemukan obat.

Pertumbuhan Cina yang cepat juga mendukung banyak penelitian dan perkembangan obat, terutama di pertemuan tahunan di Ikatan Onkologi Klinis Amerika (ASCO), awal bulan ini. Kondisi ini menjadi awal untuk Nanjing Legend Biotech, yang berusaha masuk ke penelitian imunoterapi kanker baru - membentuk ketertarikan di antara industri besar farmasetik yang mengintai lantai untuk aset menjanjikan.

"Saat seseorang pertama melihat nama ini, saya pikir mereka tidak akan menunjukkan sesuatu yang menarik," kata Brad Loncar, investor yang menginvestasikan uangnya di bidang onkologi. "Tetapi mereka memiliki data yang baik, dan sangat menarik. [Imunoterapi kanker] merupakan sesuatu yang sangat teknis, dan mereka membuktikan mereka bisa melakukannya."

Nanjing Legend kemungkinan merupakan satu-satunya perusahaan bioteknologi Cina yang mengingatkan AS bahwa posisi yang ada di pasaran sekarang sangat sulit digaransi.

Pemerintah Cina menghargai akademi dan penelitian yang dilatih oleh orang asing

Selama dua tahun terakhir, produsen obat Merck, Eli Lilly, Tesaro dan Incyte mendapatkan izin untuk mengembangkan obat di Cina melalui persetujuan jutaan dollar. Perusahaan lain melakukan pendekatan berbeda dengan memberikan investasi ke negara ini, membentuk hubungan dengan pusat akademik Cina dalam prosesnya.

"Ini hanya awalnya," kata Christian Hogg, CEO Hutchison Cina MediTech di Cina, "Dalam beberapa tahun, Anda akan melihat semakin banyak perusahaan yang berhasil mendapat mengakuan dan memasuki pasar global."

Tetapi keberhasilan bioteknologi Cina bukan sesuatu yang terjadi begitu saja. Industri di Cina mendapatkan keuntungan dengan menyediakan pelayanan kontrak ke berbagai industri farmasetik besar dan menjual obat mereka sendiri yang berfokus pada obat generik lama, dan tidak inovatif.

Tetapi berkat Program Ribuan Talenta Cina - inisiatif pemerintah di tahun 2008 yang menargetkan akademi dan pekerja Cina yang pernah mendapat pelatihan di luar negeri, dengan janji mendapatkan izin dan bebas pajak - alur perekonomian Cina pun menjadi berbalik. Warga Cina yang kembali, disebut "kura-kura laut" di Cina, sekarang berhasil menciptakan pemimpin bioteknologi di negara tersebut.

"Bioteknologi adalah orang, orang, orang," ungkap Qinwei Zhou, yang menjadi kepala operasi dari Inovasi Biologi Cina tahun lalu setelah menghabiskan waktu lebih dari 20 tahun di Eli Lilly di Amerika Serikat. "Dan dengan semakin banyaknya orang yang kembali, kumpulan talenta pun terus terakumulasi."

Cina masih harus menghadapi beberapa tantangan

Ranah bioteknologi di Cina juga banyak mengalami perkembangan karena banyaknya populasi lansia yang mampu membayar terapi kesehatan. Besarnya populasi "baby boomers" banyak mendapat manfaat dari influks kekayaan yang sudah banyak mengubah Cina di beberapa dekade terakhir.

Pemerintah Cina juga didorong untuk menurunkan harga obat dengan memotong jumlah tengkulak di sistem kesehatan dengan "reformasi dua tagihan" yang membatasi jumlah tagihan antara produsen dan rumah sakit menjadi dua. Tetapi banyak ahli mengatakan bahwa kondisi ini bisa membuat perusahaan farmasetik untuk mendapat kekuatan dan menurunkan biaya distribusi mereka.

Batasan lain yang masih ada. Produsen obat Cina secara rutin gagal melakukan inspeksi yang dilakukan oleh US Food and Drug Administration. Data klinis juga ditemukan palsu dalam banyak instansi, dan memaksa pemerintah untuk mengimplementasikan hukuman mati untuk yang melanggarnya.

Dalam sisi finansial, industri harus mempertimbangkan keuntungan terlebih dahulu sebelum menjual saham ke publik Cina, sehingga sulit bagi perusahaan bioteknologi tahan awal untuk mendapatkan biaya dari pasar saham.

Tetapi jarak antara investasi Cina dan AS menjadi semakin dekat, khususnya saat pemerintah terus meningkatkan anggaran penelitian.

"Mungkin lima tahun? Sepuluh? Atau lima belas? Saya tidak tahu," ungkap Zhou. "Tetapi cepat atau lambat, kondisi ini sudah tidak bisa dihindari lagi." MIMS

Bacaan lain:
Ilmuwan Cina memimpin edit gen-CRISPR pada manusia untuk pertama kalinya di dunia
Sebuah "telinga utuh" di tangan seorang pria Cina untuk operasi rekonstruksi
Orang dewasa di Cina kehilangan 9 tahun kehidupan karena diabetes

Sumber:
https://www.statnews.com/2017/06/15/china-biotech-industry/
https://www.statnews.com/2017/05/08/biopharma-investment-china/
http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMp1311068#iid=f01
http://www.1000plan.org/en/