Kaki gajah merupakan salah satu penyakit yang membuat pengidapnya merasa menderita, sakit, tidak bisa bergerak, dan harus menghadapi berbagai stigma masyarakat.

Ditinggalkan dan terisolasi dari lingkungan, Peter Oyuki dijauhi oleh istrinya karena bentuk kakinya yang tidak biasa.

Warga Uganda berusia 51 tahun ini sudah menderita kaki gajah sejak tahun 1983, katanya, "Dimulai dari rasa gatal, kemudian saya mulai merasa dingin dan kesulitan berjalan. Kaki saya mulai terasa sakit dan sulit bergerak. Saya sudah berusaha mengobati kaki saya ini tetapi gagal. Saya tidak tahu lagi apa penyebab penyakit ini.

Tidak ada tanda cacing parasit

Diestimasikan 120 juta orang yang tinggal di wilayah tropis menderita penyakit ini, menurut statistik dari Drugs for Neglected Diseases Initiative (DNDI).

Menteri Kesehatan di Uganda melaporkan bahwa setidaknya ada 4,7 juta orang menderita kaki gajah, dengan warga Uganda termiskin menjadi mayoritasnya. Cacing parasit, yang ditransmisikan melalui nyamuk, merupakan salah satu penyebab penyakit ini.

Ketika wabah kasus dilaporkan di Kamwenge, Uganda Barat pada tahun 2015 silam, peneliti dan ahli epidemiologi dari Menteri Kesehatan Uganda, Christine Kihembo dan kolega turun ke lapangan untuk memeriksa asumsi wabah kaki gajah meskipun tidak ada riwayat wabah di wilayah itu sebelumnya.

Meskipun demikian, sampel darah dari 52 korban menunjukkan tidak ada tanda cacing filarial yang menjadi penyebab penyakit ini. Tetapi menariknya, dalam wawancaranya, mereka menemukan satu hal yang serupa - para petani bekerja tanpa alas kaki.

Pernyataan ini kemudian mengarahkan ke satu ide baru - tanah. Peneliti mencatat bahwa sampel abu vulkanik yang mengandung mineral bisa masuk melalui kulit dan menyebabkan inflamasi, kemudian menyebabkan terbentuknya jaringan baru.

"Kristal kecil bisa masuk ke sistem limpa Anda. ... Setelah beberapa tahun, mereka akan menghalangi salurannya sehingga limpa tidak bisa mengalir dan kaki Anda menjadi membengkak," kata David Mabey, profesor dari penyakit infeksi di London School of Hygiene & Tropical Medicine.

Tidak dilaporkan dan penuh dengan stigma

Peneliti menyimpulkan bahwa para petani menderita podoconiosis, istilah Yunani yang pertama kali digunakan oleh dokter bedah Inggris, Ernest Price yang tinggal di Ethiopia Timur pada tahun 1970an, yang berarti "kaki" dan "debu".

Kihembo mengatakan, "Orang-orang kemungkinan pada awalnya menderita podoconiosis, penyakit non-infeksi, selama beberapa dekade hingga akhirnya menjadi kaki gajah." Ia menspekulasikan bahwa warga Uganda Barat kemungkinan sudah menderita penyakit ini selama lebih dari 30 tahun.

Ia menjelaskan, "Pada awalnya, para petani mengatakan mereka merasa sakit, gatal dan mengalami pembengkakan di kaki mereka, sore hari, setelah bekerja di sawah. Tetapi pagi harinya, gejalanya akan hilang."

Siklus ini kemungkinan berlangsung selama bertahun-tahun hingga akhirnya korban merasakan pembengkakan dan sakit menetap di kaki mereka. Kemudian mereka menjadi sulit bergerak, dan ketika kulit mereka menebal dan pecah, ulkus dan infeksi pun terjadi.

"Rasanya sakit sekali. Sakit sekali," katanya. "Ketika kaki gajah sudah terjadi, Anda tidak bisa lagi menyembuhkannya."

Memeriksa dari data, kepala penelitian menemukan bahwa tren penyakit ini tetap stabil dan kemungkinan terjadi karena kurangnya kesadaran dari tenaga kesehatan lokal dan stigmatisasi penyakit.

"Penderita tidak melaporkan ke fasilitas kesehatan," katanya.

Penelitian baru menemukan tidak ada hubungan signifikan dengan riwayat keluarga

Pemerintah sekarang sedang bekerja sama dengan tenaga kesehatan lokal untuk mengatasi penyakit ini. "Penyakit ini bisa dicegah dengan menggunakan sepatu pelindung dan menjadi higienitas kaki," kata Kihembo.

Masalah utamanya adalah kemiskinan, Kihembo merasa orang-orang ini bukan termasuk orang-orang yang bisa membeli sepatu. "Tetapi apa yang dibutuhkan komunitas adalah kestabilan ekonomi sehingga mereka bisa membeli sepatu," tambahnya.

Wabah podoconiosis pertama kali ditemukan di Uganda Timur pada 2001. Pemerintah sudah menspekulasikan bahwa penyebab penyakit ini bisa menjadi epidemik penyakit baru.

Penelitian sebelumnya mengatakan ada hubungan antara genetik dan angka kejadian penyakit di Riwana, Ethiopia dan Burundi, tetapi penelitian terbaru menemukan hal sebaliknya.

"Podoconiosis masih banyak terjadi di Afrika tropis," kata Gail Davey, profesor epideiologi kesehatan global di Fakultas Kedokteran Brighton dan Sussex.

Penemuan terbaru, bersamaan dengan penelitian di tahun 2001, "bisa membantu peneliti untuk memetakan distribusi podoconiosis di negara dan kemudian melakukan program pencegahan dan perawatan langsung ke daerah yang terpengaruh," menurut Davey. MIMS

Bacaan lain:
Legalisasi eutanasia: Perdebatan antara para dokter
438 anak-anak usia sekolah di Perak menunjukkan gejala penyakit yang menyerupai Influenza
Mahasiswa Malaysia menemukan alternatif antibiotik untuk melawan superbug
Risiko mikrocefalus hanya ditemukan pada virus Zika di Asia


Sumber:
http://edition.cnn.com/2017/04/10/health/elephantiasis-mystery-disease-uganda-volcano-ash-study/
http://www.npr.org/sections/goatsandsoda/2017/04/10/523044853/the-unexpected-cause-of-this-awful-disease-lay-right-underfoo
https://www.nytimes.com/2017/04/10/health/volcanic-minerals-uganda-elephantiasis.html?_r=1
http://www.monitor.co.ug/Magazines/HealthLiving/Battling-elephantiasis/689846-2255014-h4bspvz/index.html
http://www.newsweek.com/elephantiasis-rare-diseases-uganda-surge-582106