Hipokrates pernah mengatakan, "Hidup sangat pendek, namun dibutuhkan waktu yang panjang untuk mengasah suatu keterampilan", menjadi seorang dokter merupakan profesi yang paling sulit karena dokter bisa mengubah dan membenarkan apa yang membuat dunia tampak spesial - kehidupan.

Apa yang tidak dikomentari Hipokrates merupakan peran emosi yang dirasakan dokter. Beberapa kata apa yang bisa menggambarkan kata-kata "dokter"? Sangat tabah, tidak berperasaan dan kaku, mungkin beberapa istilah yang sering Anda dengar. Berlawanan dengan gambaran media mengenai profesi kedokteran, seorang dokter banyak mengalami perubahan emosi; beberapa terbentuk secara alami dan beberapa dibutuhkan waktu untuk menggunakannya.

1. Kewalahan

Guncangan pertama yang dirasakan hampir semua dokter adalah saat mereka menyadari bahwa dunia kesehatan merupakan dunia yang sangat berbeda dari program simulasi yang sudah mereka pelajari di bangku kuliah. Masalah di dunia nyata merupakan masalah yang lebih kompleks, berisi kombinasi, dan membutuhkan lebih banyak pengetahuan untuk melawan dan mengatasinya. Tentu saja, rasa kewalahan ini selalu muncul di hampir semua pekerjaan, tetapi dalam sebuah profesi yang menghadapi kehidupan dan kematian setiap harinya, sungguh merupakan kewalahan yang tidak terbayangkan.

2. Frustasi

Perasaan ini pasti pernah dirasakan seorang dokter. Seringkali muncul karena kesulitan yang mereka alami saat berusaha mengidentifikasi penyakit, memberikan obat spesifik dan/atau kesulitan membuat pasien patuh.

Bahkan dalam siklus alami, beberapa faktor bisa membuat dokter merasa terkekang. Situasi dimana banyak dokter merasa terganggu dan penuh argumentasi di satu waktu merupakan frustasi tentu saja merupakan emosi yang selalu muncul.

3. Kesepian

Saat dokter bertemu pasien, menyedihkan memang tetapi benar adanya bahwa profesi mereka merupakan suatu profesi dengan sedikitnya interaksi manusia yang bermanfaat. Selain duduk dan memandang layar Electronic Medical Records (EMR) sepanjang hari, di luar jam kerja, mereka juga harus menghabiskan waktu di luar jam kerja untuk mengasah dan meningkatkan keahlian mereka.

Standar dan strategi medis selalu berubah dan selalu ditingkatkan. Bagi dokter yang ingin memberikan perawatan berkualitas tinggi, dokter harus banyak membaca. Yang dengan demikian juga berarti bahwa mereka tidak bisa menghabiskan waktu untuk bersosialisasi di luar jam kerja.

4. Merasa lelah

Seperti kesepian, kelelahan merupakan konsekuensi lain dari jam kerja yang panjang. Beberapa dokter bekerja 40 jam secara berturut-turut, dan 65-80 jam seminggu saat dalam pelatihan. Bagi seorang dokter bedah dan dokter yang bekerja di Bangsal Kecelakaan dan Gawat Darurat, jam kerjanya bisa jadi lebih panjang. Kurang tidur mengartikan dokter memiliki risiko lebih tinggi terkena masalah kesehatan. Namun mereka masih harus tetap tersenyum dan bersikap profesional setiap hari.

5. Empati

Penelitian di tahun 2011 berisi 800 pasien menemukan bahwa hanya 53% orang merasa bahwa dokter mereka menunjukkan empati. Banyak survey juga menunjukkan bahwa mereka lebih menyukai melakukan konsultasi ke dokter yang ramah dan memiliki sentuhan profesional tertentu.

Meskipun tampaknya dokter tidak menunjukkan empati, namun kedokteran merupakan salah satu profesi yang mengharuskan dokter bisa menempatkan posisinya ke posisi pasien mereka untuk mencaritahu solusi terbaik untuk pasien mereka. Pertanyaannya bukan apakah dokter menunjukkan empati, tetapi bagaimana mereka ingin menunjukkan empati tersebut. Kemungkinan ini merupakan dilema terbesar bagi seorang dokter, dan tentu saja lebih mudah mengatakannya daripada melakukannya.

6. Puas

Kepuasan - hadiah yang membuat dokter terus bekerja. Seperti pekerjaan lain, satu momen spesial bisa membuat dokter merasa senang dan bahagia sehingga bisa melupakan masalah buruk lainnya. Perasaan inilah yang membuat dokter bekerja keras. Ketika jam kerja yang panjang menghasilkan membaiknya kondisi pasien dan dalam beberapa kasus, membawa pasien keluar dari "zona bahaya", merupakan apa yang membuat pekerjaan menjadi berharga.

Rumah sakit bisa mendorong pasien dan keluarga mereka menulis kartu ucapan dan surat terimakasih. Bagi dokter, ucapan kecil ini bisa membuat mereka melupakan masalah dan kesulitan yang sudah mereka hadapi. Seperti orang lain, dokter hanya manusia biasa, sedikit rasa terimakasih untuk kontribusi mereka merupakan sesuatu yang bisa kita lakukan untuk berterimakasih kepada mereka. MIMS

Bacaan lain:
Mengapa tenaga kesehatan lebih memilih teh daripada kopi?
Dokter: Apakah kualitas konsultasi tergantung pada lamanya waktu?
Dokter bedah yang kasar cenderung menyebabkan komplikasi saat operasi
Dokter: Berikut cara agar mimpi liburan Anda menjadi kenyataan


Sumber:
http://www.kaptest.com/blog/residency-secrets/2015/11/19/5-things-medical-school-doesnt-teach-you/
http://www.nytimes.com/2012/03/28/opinion/doctors-have-feelings-too.html
https://www.theatlantic.com/health/archive/2015/09/when-patients-ignore-doctors-emotions/407032/
http://www.kevinmd.com/blog/2015/10/for-doctors-to-survive-today-they-need-emotional-intelligence.html
http://www.nytimes.com/2008/04/23/health/23iht-22essa.12270843.html
http://greatergood.berkeley.edu/article/item/should_we_train_doctors_for_empathy