"Seperti ada sesuatu dalam mata saya". Mungkin ini merupakan suatu ungkapan yang sering terdengar, terutama dalam praktek sehari-hari Anda.

Sindrom mata kering (dry eye syndrome/DES), meskipun merupakan kondisi umum, namun kondisi ini cukup mengganggu pada pasien yang terpengaruh. Gejalanya seringkali ringan hingga sedang seperti air mata berlebih, penglihatan yang kabur dan sensasi seperti berpasir, gatal atau terbakar. Pada kasus yang lebih parah, DES bisa menyebabkan ulkus kornea, yang memicu terjadinya kerusakan permanen pada mata.

Meskipun kondisi ini bisa terjadi dalam semua kelompok usia, namun kaum lanjut usia (lansia), khususnya wanita paskamenopause, lebih sering terpengaruh.

Sindrom mata kering bisa diklasifikasikan menjadi dua kelompok, yaitu mata kering karena aqueous ­deficiency dry eyes dan evaporative dry eyes. Aqueous tear deficiency muncul saat kelenjar lakrimal gagal memproduksi cukup air mata untuk melembapkan mata. Evaporative dry eyes di sisi lain, terjadi disebabkan disfungsi kelenjar meibomian. Dalam kasus ini, air mata yang diproduksi mungkin kekurangan komponen lipid yang penting dalam mencegah evaporasi dan menjaga lapisan air mata normal.

Pasien perlu dihibur dengan mengatakan bahwa sindrom mata kering secara umum bukanlah kondisi serius dan bisa ditangani dengan penanganan yang benar dan penggunaan produk yang sesuai. Berikut lima tips perawatan mata yang mungkin akan berguna bagi pasien Anda:

1. Pilih produk bebas pengawet

Lubrikan mata biasanya mengandung pengawet untuk mencegah kontaminasi mikroba dan biodegradasi bahan aktif. Pengawet opthalmik seperti benzalkonium klorida (BAK) mungkin bisa menyebabkan iritasi dan kerusakan pada kornea dan epitelium konjungtiva yang sudah terinflamasi. Risiko toksisitas pengawet mungkin lebih tinggi pada pasien DES mengingat tidak cukupnya sekresi air mata untuk mendilusi dan mengeliminasi pengawet, terutama jika pasien perlu terus-menerus menggunakannya. Pengawet tertentu seperti polyquaternium, natrium klorit dan natrium perborat tidak memberikan efek iritasi yang sama dengan BAK tetapi mungkin tetap akan menghasilkan iritasi pada sindrom mata kering yang parah. Dengan demikian, disarankan pasien memilih sediaan mata yang bebas pengawet.

2. Memahami formulasi yang tersedia

Lubrikan okular tersedia dalam berbagai ukuran dosis, semuanya berbeda dalam hal profil penggunaan, efektivitas, akseptabilitas dan efek samping. Lublikan okular yang paling banyak tersedia adalah dalam sediaan tetes mata. Meskipun tetes mata relatif mudah digunakan, namun pasien perlu mencatat bahwa seringnya pemberian, setiap jam dalam kondisi parah, diperlukan untuk outcome terapi terbaik.

Salep mata juga sangat berguna untuk penggunaan jangka panjang terutama dengan gejala mata kering yang mengganggu tidur atau setelah bangun tidur. Meskipun demikian, kaburnya penglihatan dan iritasi dari kandungan lanolin bisa menurunkan akseptabilitas pasien. Lubrikan gel mungkin akan lebih bisa diterima untuk efek jangka panjang, dengan masalah gangguan penglihatan yang tidak terlalu parah.

3. Hati-hati dengan obat yang mungkin menyebabkan mata kering

Banyak pasien tidak mengetahu bahwa DES mungkin merupakan efek samping dari beberapa obat resep dan obat over-the-counter. Contoh klasik meliputi kontrasepsi oral, antihistamin, beta bloker, isotretinoin, diuretik, antidepresan dan pengawet topikal dalam sediaan obat mata. Pasien disarankan untuk mendaftarkan obat yang sering digunakan saat berkonsultasi dengan tenaga kesehatan akibat DES. Pada kasus DES parah, dosis obat mungkin bisa disesuaikan atau diganti menjadi pilihan alternatif.

4. Menurunkan evaporasi air mata

Banyak pasien mungkin tidak menyadari bahwa paparan kepada faktor lingkungan tertentu seperti udara, debu, asap dan bahkan perubahan iklim bisa menyebabkan evaporasi air mata. Mungkin akan lebih baik jika Anda mulai berinvestasi pada penyaring air dan pelembap udara untuk memperbaiki kualitas air dan kelembapan ruangan. Kaca di sekitar ruangan dengan wadah pelembap bsia digunakan untuk meminimalisir evaporasi air mata. Pasien juga perlu diingatkan untuk beristirahat sebentar dari komputer dan terus berusaha untuk mengedipkan mata.

5. Meningkatkan konsumsi asam lemak esensial

Kabar baik bagi pasien Anda: mengonsumsi dua porsi ikan laut dalam dalam seminggu bukan hanya baik bagi jantung, tetapi juga mata. Peran asam lemak esensial (EFA), terutama omega 3 dalam manajemen sindrom mata kering sudah banyak dipelajari selama beberapa tahun terakhir. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa asam lemak omega 3 menunjukkan kerja anti-inflamasi melawan mediator inflamasi pada DES. Juga dipostulasikan bahwa asam lemak omega 3 bisa berguna dalam memperbaiki fungsi permukaan okular dengan mengubah sekresi kelenjar meibomian dan kualitas meibum. MIMS

Bacaan lain:
Dokter bedah menemukan 27 lensa kontak di mata pasien
Terus mengalirnya air mata – Efek pseudobulbar
Racikan obat dalam lensa kontak secara efektif bisa meredakan tekanan mata pada penderita glaukoma