1. Menangani pasien yang sulit

Pasien yang marah, agresif dan sering melakukan manipulasi, pasti pernah dihadapi oleh semua apoteker di dunia. Meskipun apoteker memiliki pengetahuan mendalam mengenai obat dan kemampuan konsultasi, namun menghadapi pasien yang sulit merupakan salah satu hal yang sulit dilakukan. Ini merupakan situasi yang sulit dipelajari hanya dengan membaca.

Faktanya, menghadapi pasien yang sulit merupakan suatu seni. Mudah memang bagi sebuah konflik untuk muncul, namun seorang apoteker berpengalaman akan mengambil langkah mundur untuk mengevaluasi kembali situasi yang ada, dan mengingat bahwa pasien bersikap demikian karena berbagai macam alasan. Mungkin, mereka sedang kesakitan. Mungkin, mereka sedang berusaha menyelesaikan kecanduan obat atau bahkan memiliki penyakit tertentu yang menyebabkan timbulnya kondisi agresif.

Hampir semua pasien ingin didengar, sehingga daripada bersikap melawan, dengarkan mereka. Katakan bahwa Anda memahami kondisi mereka. Ulangi kata-kata mereka dengan bahasa yang lebih halus terkadang bisa membantu. Belas kasihan seringkali bisa menyelesaikan situasi bermasalah. Kuncinya adalah tetap profesional dalam menyelesaikan masalah.

Dengan demikian, berbelas kasihan dan profesional merupakan kunci dari pekerjaan seorang apoteker.

2. Ketajaman bisnis

Apoteker di apotek dan sektor industri akan memahami pentingnya tetap maju dalam persaingan pasar, sesuatu yang hanya bisa dipelajari di lingkungan kerja. Terus mengikuti perkembangan obat saja, mungkin tidak cukup.

Apoteker harus jeli akan tren kesehatan dan juga aktivitas kompetitor. Untuk mengetahui permintaan pasar, apoteker harus mempelajari bagaimana cara mengambil kesempatan bisnis, mencari cara baru untuk strategi penjualan dan cara membuat diri mereka menonjol dari persaingan pasar yang begitu sengit.

3. Kode rahasia

Hampir semua apoteker menghabiskan waktu mereka untuk meracik obat dari resep dokter – beberapa apoteker mengistilahkan hal ini dengan kegiatan memecahkan kode rahasia. Pengalaman meracik dibutuhkan dalam hal ini sehingga permintaan dokter bisa diinterpretasikan dengan benar. Karena dengan demikian, apoteker bisa mempelajari pola peresepan dan permintaan obat dokter. Jika merasa ragu, apoteker bisa menghubungi dokter untuk mencegah terjadinya salah obat.

Menjaga hubungan profesional yang baik juga merupakan kunci keprofesian kita, dan memastikan pasien mendapat pelayanan terbaik di apotek kita.

4. Tetap tenang

Kita semua belajar bahwa kunci utama praktek apoteker berada pada mantra, "Utamakan pasien". Selama ujian, kita diberikan cukup waktu untuk fokus dan berpikir mengenai interaksi obat, perhitungan dosis dan poin konsultasi di situasi sulit.

Faktanya, situasi tanpa gangguan dan cukup waktu untuk satu kasus atau pasien merupakan suatu keberuntungan. Apoteker bekerja dalam kondisi sibuk dan memiliki kurang dari 5 menit waktu per pasien untuk menyelesaiakn proses peracikan, mulai dari memeriksa resep, menghubungi dokter jika dibutuhkan, memberikan obat ke pasien, dan memberikan konsultasi. Dan semua kondisi ini harus dilakukan bersamaan dengan dering telepon dan daftar resep yang terus menerus berdatangan. Beberapa apotek untuk pasien rawat jalan bahkan memiliki indeks waktu tunggu pasien untuk mengukur performa kerja mereka.

Semakin banyak stres dan tekanan yang dirasakan, semakin banyak kesalahan yang mungkin kita lakukan. Tetap tenang dalam situasi sulit merupakan sesuatu yang harus kita pelajari, tujuannya adalah untuk memastikan pasien mendapat terapi terbaik.

5. Mendeteksi kebohongan

Di dunia ideal, semua pasien menyatakan fakta. Tetapi dunia nyata tidak seindah cerita di buku kuliah. Apoteker mungkin harus menghadapi pecandu obat yang berbohong agar bisa membeli obat. Sikap pencari obat seringkali bisa diidentifikasi saat seseorang secara spesifik meminta obat yang berpotensi disalahgunakan, menolak alternatif lain dengan menyatakan alergi atau tidak efektif, dan kemudian bersikap agresif atau tidak sabar saat apoteker menanyakan gejalanya. Selain itu, beberapa pasien lain mungkin tidak menyatakan fakta sebenarnya mengenai kondisi medis mereka, mungkin karena merasa malu, yang kemudian berpotensi menyebabkan outcome terapi yang tidak diinginkan.

Terkadang kita berhasil menyelesaikan misi keprofesian kita dengan baik, namun terkadang kita juga mengalami kegagalan. Apapun yang terjadi, belajar menganalisis pernyataan dan membaca gerak tubuh, nada suara, dan ekspresi wajah, akan membantu apoteker untuk menyadari tanda bahaya yang ada. MIMS

Bacaan lain:
Malpraktek oleh apoteker: Kekeliruan, kelalaian dan penyalahgunaan
4 sikap kepemimpinan yang harus dikuasai apoteker muda
Tulisan jelek dokter menempatkan posisi pasien ke ujung tanduk