Berikut bagaimana perjalanan penelitian untuk mencaritahu bagaimana cara otak bekerja, misalnya seperti efek kemoterapi ke otak.

1. Pasien kanker menderita "otak kemo" jangka panjang setelah terapi

"Otak kemo" memiliki gejala seperti gangguan kognitif yang sering dihadapi pasien kanker setelah kemoterapi, menimbulkan ganggaun mental sebelum, selama, dan sesudah terapi. Perubahannya terjadi secara perlahan-lahan, pasien kanker biasanya baru akan melaporkan masalah ini setelah memengaruhi kehidupan mereka sehari-hari.

Peneliti menemukan bahwa "otak kemo" bisa memengaruhi kehidupan pasien hingga enam bulan setelah terapi. Jnelsins, kepala penelitian, menemukan bahwa lebih dari 40% pasien kanker payudara melaporkan ada penurunan kemampuan berpikir, sebelum dan setelah kemoterapi, sebagaimana dibandingkan dengan 10,4% wanita sehat dalam satu periode waktu yang sama.

Ketika nilai ini dibandingkan enam bulan kemudian antara wanita yang lebih menyelesaikan periode kemoterapi, dan pembandingnya yang sehat, mantan penderita kanker payudara cenderung lebih banyak mengalami penurunan fungsi otak dibandingkan sebelumnya.

Selain itu, mantan pengidap kanker yang melaporkan rasa gelisah dan depresi sebelum terapi lebih rentan menderita "otak kemo" daripada pasien dengan kesehatan mental yang baik.

2. Stabilitas "tangan bergetar" dengan terapi non-invasif

Jutaan orang di dunia menderita "essential tremor," kondisi yang tidak mengancam nyawa tetapi sangat mengganggu kualitas hidup seseorang. Alexandra Lebethal, seorang penderita, melaporkan bahwa kondisi ini mengganggunya melakukan aktivitas sehari-hari, seperti mengambil gelas dari meja saat pesta atau mengambil gambar dengan telepon genggamnya.

Obat tidak mebisa menyembuhkannya. Untungnya, ia merupakan salah satu dari pasien pertama yang menerima terapi untuk essential tremor, terapi non-invasif yang sudah disetujui penggunaannya oleh FDA.

Prosedur rawat jalan - diberikan hanya pada pasien dengan gangguan satu sisi otak - berfokus pada gelombang ultrasound yang dilakukan dengan bantuan MRi, untuk menargetkan dan mengablasikan jaringan dalam otak.

Dr Michael G. Kaplitt mendeskripsikan prosedur yang membuat dokter bisa "mengirim gelombang ultrasound ke daerah spesifik di otak dan biasanya bisa mengubah fungsi otak." Pasien telah melaporkan ada 50% perbaikan setelah terapi, dan Lebenthal menjelaskan kesembuhannya sebagai, "... sangat tidak bisa dibayangkan."

3. Kaca mata pendeteksi gegar otak

Di masa lalu, gegar otak hanya bisa dideteksi melalui berbagai macam tes. I-Portal®-Neuro-Otologic Test Center menjanjikan kemudahan dalam proses diagnosis. Mereka menggunakan kursi dengan kacamata khusus untuk mengukur gerakan mata seseorang.

Penelitian menemukan bahwa ada sedikit perbedaan antara dua kelompok yang diuji. Kelompok tersebut baru didiagnosis menderita cedera otak traumatik ringan diuji positif gegar otak dengan akurasi hingga 89%, dan bisa mensertifikasi bahwa individu sehat memiliki akurasi 95%.

Satu dari tiga tes ini mengukur kemampuan seseorang untuk mempertahankan gerakan mata, barometer dari fungsi eksekutif. Mereka diminta untuk melihat langsung ke depan hingga titik tersebut pindah ke sisi lain, dan mereka kemudian diminta untuk menggeser mata mereka ke arah sebaliknya. Semakin tidak bisa ia melakukannya, semakin rusak korteks otak mereka.

4. Kehamilan mengganggu otak ibu hingga 2 tahun

Peneliti menemukan bahwa kehamilan mengubah fungsi otak dan mengembangkan cara berpikir keibuan. Penelitian menemukan bahwa kehamilan bisa mengubah ukuran dan struktur otak termasuk perasaan dan pandangan ke orang lain.

Perubahan ini juga ditemukan bertahan selama jangka panjang, dan setidaknya akan bertahan selama dua tahun setelah melahirkan. Diketahui pula bahwa seiring dengan perubahan otak, semakin tinggi juga pendekatan emosi ibu dengan bayi mereka. Ada juga penurunan massa materi abu-abu, dalam daerah kognisi sosial dan kemampuan untuk mendaftarkan dan membandingkan bagaimana orang lain mempersepsikan sesuatu.

Peneliti Elseline Hoekzema, menjelaskan bahwa kehamilan bisa membantu otak seseorang mengembangkan "kemampuan ibu menyadari kebutuhan anaknya, untuk memahami masalah sosial atau mempromosikan ikatan ibu-anak."

Peneliti juga menganalisis apakah ada perubahan muncul sebelum dan sesudah menjadi seorang ayah; namun tidak ada laporan perubahan. Meskipun demikian, pada ibu, perubahannya sangat jelas dan bahkan bisa dibedakan hanya dengan membandingkan gambar otak.

5.  Gumpalan otak untuk membantu penelitian virus Zika

Gumpalan otak, yang dikembangkan oleh ilmuwan MIT, Harvard dan Akademi Sains Austria, dibuat dari sel punca untuk membantu teknik pengeditan gen CRISPR. Gumpalan otak ini menunjukkan bagaimana otak berkembang, dan juga membuat mereka mempelajari bagaimana Zika memengaruhi otak bayi yang baru lahir, dan bagaimana virus ini bisa menyebabkan microcephaly.

Gumpalan otak ini, dengan pengeditan genome mereka, membuat peneliti bisa membentuk lebih banyak kompleks dan model otak seperti pada manusia, dan bisa digunakan untuk menganalisis efek penyakit ke otak manusia. Ketika Zika dipaparkan ke gumpalan otak ini, ia akan menghambat pertumbuhan organoid dan jumlah lipatan; virus serupa, demam berdarah, tidak menyebabkan efek yang sama.

Peneliti menjelaskan bahwa penelitian mengenai efek Zika dalam perkembangan otak sangat sulit dilakukan sebelum ada kemajuan teknik ini, karena jaringan otak fetus untuk digunakan dalam penelitian sangat langka. MIMS

Bacaan lain:
Apakah 'obat pintar' benar-benar memiliki kecerdasan tanpa menimbulkan efek samping?
Menteri Kesehatan Singapura memonitor bayi dari ibu terinfeksi Zika hingga berusia 3 tahun
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal
Bagaimana rasanya tidak mengenal siapa-siapa?