Tahun ini Konferensi Internasional Asosiasi Alzheimer (AAIC), yang diadakan di London baru-baru ini, diadakan pada 16 hingga 20 Juli. Konferensi internasional tahunan ini menyajikan informasi terbaru dan hasil penelitian peneliti ternama – untuk berbicara mengenai hasil penelitian penyakit ini.

Berikut lima hasil penelitian terbesar yang disajikan dalam konferensi:

Pola berbicara yang melambat, gejala awal Alzheimer

Tim peneliti di Universitas Wisconsin-Madison menemukan bahwa pola berbicara yang melambat dan defisiensi bahasa merupakan satu dari gejala utama penyakit Alzheimer.

Meskipun defisiensi bahasa diketahui merupakan tanda penyakit neurodegeneratif seperti Alzheimer, penelitian menunjukkan bahwa tanda ini mungkin muncul lebih awal dari yang pernah dibayangkan sebelumnya. Pola bicara yang melambat seperti jeda, menggunakan kata-kata pengisi dan kosa kata sederhana diikuti dengan cepat melupakan nama dan usia seringkali dianggap sebagai penuaan normal.

Kondisi ini benar hingga tahap tertentu, tetapi kemampuan berbicara yang terus menurun membedakan pasien Alzheimer dari penuaan normal. Sayangnya, perubahan berlangsung ringan namun terus-menerus, yang membuatnya sulit bagi penderita dan anggota keluarga untuk menyadarinya.

Meskipun sudah ada data, namun tidak banyak yang bisa dilakukan oleh dokter untuk melawan masalah ini, seperti yang didiskusikan selama konferensi. Selain itu, data seperti ini menyajikan kemungkinan untuk tes klinis baru – karena tim peneliti sudah berhasil mengembangkan program komputer dan aplikasi baru untuk mendeteksi tanda ini.

Tiga gen risiko baru ditemukan

Tim peneliti di Universitas Cardiff menemukan tiga gen risiko baru yang berhubungan dengan penyakit Alzheimer. Dua dari gen ini, PLCG2 dan ABI3, sebelumnya tidak dihubungkan dengan penyakit Alzheimer. Meskipun demikian, tim ini berhasil mengidentifikasi varian gen ini, yang ditemukan berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit Alzheimer.

Selain itu, tim juga menemukan gen risiko baru, TREM2, dengan risiko peningkatan lebih lanjut mengembangkan penyakit Alzheimer onset terlambat melalui analisis total genetik dari 85.133 partisipan penelitian. Penelitian ini berhasil mencatat lebih dari 200.000 varian gen dan menyusutkan jumlah ini menjadi 43 kandidat varian dan kemudian berhasil mengidentifikasi tiga gen risiko.

Meskipun dibutuhkan kerja keras, namun hal ini tidak sia-sia karena komunitas saintifik sekarang memiliki pemahaman lebih mengenai penyakit Alzheimer khususnya dalam hal area mikroglia otak dimana gen ini diekspresikan.

Puluhan potensi obat Alzheimer baru

Salah satu dari pengumuman besar di konferensi adalah fakta bahwa dalam lima tahun terakhir, akan ada sekitar 36 obat Alzheimer baru yang akan diluncurkan ke pasar. Angka ini termasuk 27 obat yang sekarang berada dalam penelitian klinis Fase 3 dan 8 obat dalam penelitian klinis Fase 2.

Tidak ada obat Alzheimer baru di pasar sejak 2002 di Eropa dan 2003 di Amerika Serikat. Pengumuman ini muncul saat angka penderita Alzheimer terus meningkat dengan kecepatan tinggi setiap tahunnya sehingga obat baru sangat dibutuhkan sekarang ini.

Bukan hanya menghentikan angka penderitanya, 36 obat baru ini akan berperan sebagai hal penting untuk menjaga kondisi penderita Alzheimer di saat peneliti berusaha sebisanya untuk mencari penyembuh penyakit neurodegeneratif.

Stres membuat otak menjadi tua

Stres tingkat tinggi seperti perceraian, kematian orang yang dicintai, penyiksaan dan kehilangan pekerjaan bisa menyebabkan buruknya fungsi kognitif manusia di tahap selanjutnya. Tim peneliti dari Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat Universitas Wisconsin menemukan bahwa pengalaman hidup yang membuat stres tinggi bisa menyebabkan otak menua selama beberapa tahun, dan warga keturunan Afrika Amerika sangat rentan terhadap hal ini.

Penemuan ini menjelaskan titik sosialekonomi stres yang mengarahkan ke peningkatan risiko demensia pada populasi rentan dengan dukungan sosial buruk.

Dr Doug Brown, direktur penelitian di Asosiasi Alzheimer, mencatat, "Kami tahu bahwa stres berkepanjangan bisa memengaruhi kesehata, sehingga tidak mengejutkan lagi bahwa penelitian ini mengindikasikan bahwa kejadian yang membuat stres dalam hidup bisa memengaruhi ingatan dan kemampuan berpikir di kemudian hari. Meskipun demikian, masih harus dicari tahu kembali apakah kejadian stres ini bisa menyebabkan peningkatan risiko demensia."

Selain itu, "Meskipun demikian, hasil penelitian ini mengindikasikan bahwa perlu dilakukan tindakan tambahan untuk mendukung orang yang tidak beruntung yang cenderung mengalami kejadian stres. Karena kami menambah faktor risiko untuk demensia, maka sangat penting untuk menunjukkan peran stres dan kehidupan stres dalam menyebabkan penyakit Alzheimer."

Tidur nyenyak membantu mencegah penyakit Alzheimer

Tiga penelitian dilakukan oleh peneliti dari Fakultas Wheaton dan menemukan hubungan signifikan antara gangguan pernapasan yang mengganggu tidur dan akumulasi biomarker penyakit Alzheimer.

Gangguan pernapasan yang paling umum seperti Obstructice Sleep Apnea (OSA), menyebabkan gangguan siklus tidur dan buruknya siklus tidur disebabkan seringnya terbangun. Kondisi ini kemudian menyebabkan akumulasi beta-amiloid, biomarker toksik yang banyak berhubungan dengan penyakit Alzheimer.

Menurut Megan Hogan, satu dari peneliti Wheaton, "Selama tidur, saat otak Anda memiliki cukup waktu untuk membuang toksin yang dikumpulkan sepanjang hari, gangguan tidur terus-menerus menyebabkan tubuh hanya memiliki sedikit waktu untuk melakukannya."

Penelitian lain yang meliputi gangguan tidur juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah protein tau, yang juga berhubungan dengan penyakit Alzheimer. Meskipun hubungan kausalnya belum ditunjukkan, namun bukti tidur nyenyak di malam hari memiliki kemampuan untuk memperlambat perkembangan dan kejadian penyakit Alzheimer menjadi semakin jelas. MIMS

Bacaan lain:

5 peneliti Singapura mencari cara eradikasi penyakit di tingkat genetik
Asia Selatan – Ensiklopedia penelitian untuk penyakit karena gen resesif
Orang overweight memiliki otak "10 tahun lebih tua" daripada orang normal

Sumber:
http://www.chicagotribune.com/lifestyles/health/ct-interrupted-sleep-alzheimer-s-20170719-story.html 
https://www.theguardian.com/society/2017/jul/16/stressful-experiences-can-age-brain-by-years-alzheimers-experts-hear
http://www.medicalnewstoday.com/articles/318492.php
http://www.independent.co.uk/life-style/health-and-families/health-news/alzheimers-disease-slowing-speech-patterns-mental-decline-university-wisconsin-madison-a7844561.html
http://www.webmd.com/alzheimers/news/20170718/dozens-of-alzheimers-meds-in-the-pipeline