Malpraktek medis telah banyak didiskusikan, tetapi sekarang kita akan membahas masalah malpraktek pada lima pasien - atau lima korban malpraktek medis.

1. Leela Ruba Kamalakannan - Meninggal karena kelalaian

Pada Maret 2011, Leela (10 tahun) datang konsultasi di Healthway Medical Corporation dan diperiksa kembali di National Skin Center of Singapore yang tampak seperti ruam kulit. Namun, kondisi anak ini tidak membaik setelah menerima pengobatan. 

Empat minggu kemudian, Leela pingsan di rumah tanpa gejala apapun dan segera dibawa ke KK Women's and Children's Hospital, dimana kemudian ditemukan ada perdarahan di otaknya. Meskipun sudah mendapat intervensi operasi bedah, ia meninggal tiga hari kemudian.

Setelah meninggal, keluarganya melaporkan rumah sakit karena lalai - tes darah menunjukkan jumlah platelet yang rendah, dan diagnosis akurat seharusnya dibuat lebih cepat sehingga anaknya tidak meninggal. Orangtuanya setuju untuk menyelesaikan masalah ini dengan damai. "(Mereka) ingin menutup masalah ini dan melanjutkan hidup mereka," kata pengacaranya.

2. Kim Tutt - Kesalahan diagnosis karena kontaminasi laboratorium

X-ray maksilofasial pada dokter gigi menunjukkan ada bejolan besar di sisi kiri rahang Kim. "Saya diberitahukan memiliki kanker di rahang saya," ungkapnya. "Sisa hidup saya disebut-sebut hanya tinggal tiga hingga enam bulan lagi."

Dokter kemudian mengatakan bahwa ia bisa hidup tiga bulan lagi jika ia mau menerima prosedur radiasi - membuang sisi kiri pipinya hingga telinga, dan menggantinya dengan tulang fibula.

Kim saat itu baru berusia 34 tahun, dan ingin hidup lebih lama bersama anak-anaknya, ia akhirnya memutuskan untuk menerima lima prosedur operasi. Hingga tiga bulan kemudian ia diberitahu bahwa ia tidak memiliki kanker, dan tidak pernah memilikinya. "Kami pikir biopsy Anda terkontaminasi di lab," jelas dokter.

Kim telah mendapat lima prosedur operasi, kehilangan sembilan gigi dan sulit mengunyah. "Uang tidak akan bisa menggantikan apa yang sudah keluarga kami alami," jelasnya.

3. Jesica Santillan - Transplantasi yang mematikan

Jesica Santilan, berusia 17 tahun, menerima prosedur operasi besar - transplantasi jantung dan paru-paru. Prosedur operasi ini sangat berisiko dan merupakan operasi sulit, tetapi bukan merupakan operasi yang bisa membuatnya kehilangan nyawa.

Santillan meninggal setelah tubuhnya menolak organ donor, yang diketahui bahwa donor ini bergolongan darah A.

Santillan bergolongan darah O.

Tenaga kesehatan di Duke University Hospital telah lalai memeriksa kembali kecocokan organ donor dengan golongan darah Santillan. Setelah menyadari kesalahannya, rumah sakit bergegas mencari donor lain, dan ia menerima transplantasi kedua dalam waktu dua minggu, tetapi Santillan telah koma dan membutuhkan dukungan alat agar bisa tetap hidup.

Kesalahan golongan darah membuatnya koma, dan membuat ia membutuhkan dukungan alat.

"Kami menyadari kesalahan kami," kata Ralph Snyderman, ketua perwakilan masalah kesehatan di Duke Hospital.

4. Nurul Husna - Kerusakan otak karena kelalaian

Pada 2005, Nor Azalina akan melahirkan, tenaga kesehatan di Rumah Sakit Selayang di Malaysia gagal memanggil dokter pediatrik meskipun sudah mendeteksi ada gangguan pada fetus.

Dokter juga tidak memberi pilihan melahirkan ke Nor, dan lalai menjelaskan risiko melahirkan normal meskipun Nor memiliki riwayat bedah caesar sebelumnya.

Tujuh tahun setelah anak perempuannya, Nurul Husna, lahir, Nor Azalina membawa kasus ini ke meja hijau. Nor melaporkan pemerintah, rumah sakit, dan 28 tenaga kesehatan lain yang tidak memberi perawatan dan penanganan yang baik, yang menyebabkan Nurul Husna dan keluarga menderita kegelisahan dan gangguan mental.

"Ia akan, seumur hidupnya bergantung pada orang lain," kata ayah Nurul Husna. Di tahun 2014, anak berumur sepuluh tahun ini diberi penghargaan RM2.78 juta oleh Mahkamah Agung.

5. Maria De Jesus - Kehilangan bayi dan nyawa

Tahun 2011, seorang wanita hamil bernama Maria De Jesus dirujuk ke Queen's Hospital di Inggris setelah mengeluhkan nyeri perut, yang didiagnosis sebagai apendisitis.

Appendectomy ternyata menunjukkan ada katastrofi. Ia kemudian diperasi oleh dokter bedah magang yang mengeluarkan satu ovariumnya, bukan apendiks.

Ia diizinkan pulang, kemudian kembali lagi dengan keluhan nyeri yang sama. Dan di situlah saat dokter menyadari kesalahannya.

Sayangnya, ia telah mengalami keguguran, dan pada percobaan kedua mengeluarkan apendiksnya - 19 hari setelah operasi pertama - De Jesus meninggal di meja operasi karena sepsis dan beberapa gagal organ. MIMS

Bacaan lain:
5 kasus tertinggalnya benda asing dalam tubuh pasien
Patient zero: cerita pasien dan pola epidemik
Evolusi dunia medis dari masa ke masa
Stigmata - Mitos atau Fakta Medis?


Sumber:
http://www.nytimes.com/2003/03/16/magazine/the-biggest-mistake-of-their-lives.html?pagewanted=all&src=pm 
http://www.straitstimes.com/singapore/courts-crime/negligence-suit-over-girls-death-settled-out-of-court 
http://listverse.com/2013/05/29/10-horrible-cases-of-medical-malpractice/ 
http://www.cbsnews.com/news/anatomy-of-a-mistake-16-03-2003/ 
http://www.therakyatpost.com/news/2014/06/06/brain-damaged-girl-wins-rm2-78m-medical-negligence-suit/ 
http://english.astroawani.com/malaysia-news/medical-negligence-court-awards-girl-9-rm2-78-million-37314 
http://news.asiaone.com/news/malaysia/girl-awarded-108m-civil-suit 
https://sg.theasianparent.com/mother-and-baby-die-due-to-medical-negligence/ 
http://www.ibtimes.com/maria-de-jesus-32-pregnant-mother-dies-after-surgeons-remove-ovary-instead-appendix-1299157