Mulai dari operasi bedah cesarean untuk membantu proses kelahiran bayi, hingga transplantasi organ dan operasi plastik, prosedur operasi sudah banyak dilakukan di masa sekarang ini. Meskipun demikian, dulu operasi bedah sering menjadi pilihan terakhir, ditandai dengan lebih tingginya risiko, rasa sakit nyeri dan banyaknya darah yang harus dikeluarkan, karena dokter bedah harus menghadapi tiga masalah utama dalam profesi medis - perdarahan, nyeri dan infeksi.

Di masa lampau, dokter Yunani kuno, Dioscorides (orang pertama yang menggunakan kata "anestesi") menggunakan ramuan dari dudaim dan anggur. Selain itu, beberapa dokter juga mencoba teknik hipnotis untuk digunakan saat operasi. Pasien yang sangat tidak beruntung harus menggunakan anestesi kuno seperti mulberry dan selada. Tidak satupun dari teknik ini yang bisa menghilangkan rasa nyeri secara total, dan sudah ada beberapa kemajuan di abad pertengahan.

Faktanya, di tahun 1750, ahli anatomi, John Hunter, banyak mendeskripsikan operasi bedah sebagai 'penyalahgunaan ilmu pengetahuan' dan dokter bedah sebagai 'orang menyeramkan yang mempersenjatai dirinya sendiri dengan sebuah pisau.' Meskipun terdengar menyeramkan, namun itulah faktanya. Berikut lima fakta operasi bedah sebelum periode anestesi.

1. Rasa sakit penting untuk menjaga kesadaran pasien

Dalam era pre-anestesi, rasa sakit diobati bukan hanya sebagai efek samping operasi. Faktanya, beberapa orang percaya bahwa kehilangan kesadaran pada pasien merupakan sesuatu yang berbahaya, sehingga penghilang nyeri seperti opiat dan alkohol digunakan secara terpisah, dan banyak dipaparkan sebelum prosedur.

2. Dokter bedah memiliki kebanggaan aneh untuk tampak 'berdarah dan berantakan'

Sebelum pertengahan tahun 1860an, mikroba yang ada dan hubungannya dengan penyakit masih menjadi perdebatan. Praktek sanitasi pertama kali dilakukan oleh dokter Hungaria, Ignaz Semmelweis, dan harus menghadapi banyak penghinaan bahkan di kalangan peneliti terpandang di kala itu. Di masa lampau, wajar untuk menggunakan kembali perban dan penutup luka bekas yang sudah kaku karena darah.

3. Operasi bedah menjadi lebih aman setelah populernya praktek higienitas

Mulai dari pertengahan tahun 1860an, dokter bedah Skotlandia bernama Joseph Lister mulai merevoluasi praktek dokter bedah. Meskipun Lister salah mengidentifikasi udara sebagai penyebab infeksi operasi, namun ia merupakan orang yang mempopulerkan antiseptik untuk membersihkan luka dan alat-alat bedah sebelum prosedur operasi, dan adopsi praktek higienitas seperti mencuci tangan sebelum operasi. Hanya 15% pasien Lister yang meninggal antara tahun 1867 hingga 1870.

4. Dokter mencoba beberapa hal menarik untuk menghilangkan nyeri

Dokter, dokter gigi, dan pasien akan mencoba berbagai hal untuk meringankan rasa nyeri setelah operasi. Dokter dari Cina dan India banyak menggunakan obat halusinogen seperti mariyuana dan ganja, sedangkan kaum Inka mengunyah daun koka dan meludahi luka untuk meringankan sedikit rasa sakit setelah melubangi kepala pasien. Di negara Barat, pasien diberikan opium dan alkohol, substansi yang juga banyak digunakan di negara lain.

Selain menggunakan beberapa substansi untuk meredakan nyeri, dokter juga menggunakan teknik untuk membuat kebal bagian tubuh tertentu, termasuk menekan aliran darah dan sensasi nyeri di Asiria dan Mesir. Beberapa dokter bedah bahkan diketahui sering memukul kepala pasien hingga tidak sadarkan diri, atau dengan melakukan strangulasi.

5. Kecepatan lebih penting daripada presisi

Di negara Barat, sebelum penggunaan anestesi, suara pasien berteriak kesakitan memenuhi ruang operasi. Sebelum pertengahan abad ke-19, pasien didudukkan dengan tegak di kursi yang ditinggikan, sehingga pasien tidak meronta saat pisau bedah mulai memotong daging mereka. Pasien juga seringkali harus diikat, terkadang dengan ikatan dari kulit.

Sehingga untuk meminimalisir durasi nyeri yang dirasakan pasien, dokter bedah melakukan pekerjaan mereka secepat mungkin. Peran dokter bedah banyak disebut sebagai orang yang suka pamer dan tukang jagal, nama yang sama juga diberikan ke dokter bedah terkenal seperti Robert Liston - "pisau tercepat di Ujung Barat"  - karena metodenya operasinya yang secepat kilat dan penuh dengan darah.

Operasi pembedahan dilakukan dalam hitungan menit, bahkan detik - termasuk untuk amputasi. Penonton di ruang operasi akan mengeluarkan jam mereka untuk menghitung waktu yang dihabiskan dokter bedah. Liston melakukan operasi dengan sangat cepat hingga ia pernah secara tidak sengaja mengamputasi jari asistennya bersamaan dengan kaki pasien. Pasien dan asisten keduanya meninggal akibat sepsis, dan penonton ada yang meninggal karena syok. situasi inilah yang menjadi satu-satunya prosedur dengan 300% mortalitas. MIMS

Bacaan lain:
Membongkar teka-teki resistensi anestesia
Seorang dokter wanita yang hidup dan mati sebagai seorang pria
10 obat paling penting sepanjang sejarah
Dokter bedah yang kasar cenderung menyebabkan komplikasi saat operasi


Sumber:
https://thechirurgeonsapprentice.com/2014/07/16/the-horrors-of-pre-anaesthetic-surgery/
http://www.medicaldaily.com/surgery-antiseptics-gruesome-bloody-and-often-fatal-397970
http://io9.gizmodo.com/5787069/bite-down-on-a-stick-the-history-of-anesthesia
https://en.wikipedia.org/wiki/Ignaz_Semmelweis#Breakdown_and_death
http://www.jlrmedicalgroup.com/about-anesthesia/agony-to-anesthesia
http://www.dailymail.co.uk/femail/article-1045755/With-rusty-old-saw-like-Victorian-surgeon-amputate-leg-30-seconds-flat-One-snag--hadnt-invented-anaesthetic.html