Marcus Aurelius, seorang Kaisar Romawi mengatakan, "Jangan sampai terluka - dan Anda tidak akan merasa sakit. Jangan merasa sakit - dan Anda tidak akan pernah merasakannya."

Berikut 5 dokter dan mahasiswa kedokteran yang membuktikan bahwa mereka masih bisa menjalankan karir mereka.

1. Dokter bedah yang lumpuh mencoba mengoperasi lagi

Pada 2010, Dr. Ted Rummel, seorang dokter bedah di Missouri, AS, berpikir karirnya sudah berakhir setelah ia menemukan ada kista di darah sumsum tulangnya, yang membuat ia lumpuh dari pinggang ke bawah. Namun, dokter bedah othopedi ini kembali mengeluarkan sulapnya setelah satu tahun rehabilitasi.

"Salah satu anggapan saya adalah, 'Ya Tuhan, hidup saya sudah berakhir,'" katanya. "Anda yang dulu sudah tiada dan kini Anda harus mengubah diri Anda."

Dan ia benar-benar mengubah dirinya, dalam hal positif. Ia kemudian sadar ia bisa kembali bekerja, jadi ia mulai mencoba mengoperasi lagi. Kini, ia bisa melakukan prosedur pembedahan di tangan, bahu, kaki, lutut, dan betis pasien sambil duduk di atas kursi roda. Untuk mengoperasi bahu, ia menggunakan kursi tinggi.

2. Pendaki gunung yang mematahkan tulang belakang masuk ke fakultas kedokteran

Pada Januari 2001, Daniel Strother, mengikuti ujian masuk di Fakultas Kedokteran Rumah Sakit St George di London. Satu bulan kemudian, sebelum wawancara, Strother, seorang pendaki gunung, mendaki Ben Nevis di Skotlandia dengan pacarnya. Kemudian bencana menimpa Strother, talinya lepas dan ia jatuh enam meter ke atas es, yang mematahkan tulang belakangnya.

Ia perlu menunggu satu tahun, setelah enam bulan di unit cedera spinal, sebelum berhasil mengikuti wawancara. Meskipun cedera, Strother tetap percaya diri untuk menjadi seorang dokter.

Ia mengakui, "Saya tidak akan menjadi dokter bedah orthopedik, atau dalam bangsal kecelakaan dan gawat darurat, kan? Tetapi saya pikir saya bisa menjadi dokter umum, yang masalah utamanya terletak di kemampuan diagnosis."

Dia tahun kemudian, Strother (23 tahun), sambil duduk di kursi roda, berhasil memasuki tahun pertama di Fakultas Kedokteran St George.

3. Mahasiswa kedokteran mantan penderita polio yang memperjuangkan gelar paska-sarjana

Dr Nazrin Ansari terserang penyakit polio pada usia dua tahun. Kemudian, ia menderia paralisis post-folio di kaki kirinya. Sekarang, dokter dari india ini telah berhasil mengalahkan berbagai aral-melintang, demi melawan kemiskinan dan disabilitas fisik untuk lolos ujian MBBS.

Tetapi tantangan lain muncul ketika Nazrin baru mengetahui bahwa ia membutuhkan sertifikasi yang berisi persentase disabilitas fisiknya.

Sayangnya, harapannya kandas ketika All India Institute of Physical Medicine and Rehabilitation (AIIPMR) mengeluarkan fakta mengejutkan bahwa ia 86% disabilitas, sehingga ia tidak masuk kualifikasi. Asosiasi Kedokteran India hanya mengizinkan dokter dengan disabilitas kurang dari 70% untuk mengejar gelar paska-sarjana.

Meski begitu, Nazrin tetap berusaha untuk mencapai mimpinya dan mendaftarkan petisi ke ranah hukum. Dua hari setelah ini, Nazrin diizinkan mengikuti ujian masuk seperti mahasiswa lainnya. Sekarang Nazrin sedang berjuang menggapai spesialisasinya di bidang radiologi di salah satu rumah sakit besar di kotanya.

4. Hidup bersama disabilitas menyetir seorang dokter muda mengejar gelar dokter spesialis

Tidak lama setelah mulai kuliah di Fakultas Kedokteran, Hammad Aslam mengalami kecelakaan mobil yang membuatnya lumpuh dan menunda kuliah. Selama setahun ia mempersiapkan diri untuk masuk Fakultas Kedokteran, berlatih di gym dan menjalani terapi di pusat rehabilitasi di Atlanta.

Kemudian, Aslam pindah ke Atena dimana Medical College of Georgia baru dibuka. Hidupnya sebagai mahasiswa tidak mudah. "Kuliah itu sangat sulit. Saya tinggal sendiri lagi dan kuliah setahun setelah kecelakaan itu sulit," ungkapnya.

"Selain masalah kuliah, saya juga masih harus mengurus cedera dan hidup baru saya. Saya sangat terkejut dengan banyaknya perubahan." Meskipun demikian, ia lulus tahun 2014, dan menjadi satu-satunya mahasiswa yang duduk di kursi roda.

Sambil menjalani terapi, ia terkesima dengan dokter rehabilitasinya. Itulah saat dimana ia memutuskan untuk berjuang menjadi dokter spesialis fisik dan rehabilitasi.

5. Dokter tuli yang menginspirasi seluruh dunia

Dr. Carlyn Stern, dokter di Brighton, menyetir mobil dengan plat khusus bertuliskan "DEAF DOC". Selain itu, ia tidak menggaji resepsionis untuk praktek medisnya. Ia menggunakan metode tombol yang akan dipencet ketika pasien datang.

Ketika mereka memencet tombol, Dr Stern akan memperkenalkan dirinya dan menjelaskan bahwa ia tuli, tetapi ia tetap bisa berkomunikasi dengan baik. Untuk memahami pasiennya, Dr. Stern membaca gerak bibir pasien, dan ia akan menghentikan pembicaraan ketika ia harus mengetik di laptopnya. Ia sering menggunakan bahasa isyarat ketika tangannya sedang tidak sibuk; satu-satunya yang mengindikasikan bahwa ia tuli.

Menurut Dr. Stern: "Saya pikir mereka tidak menganggap saya tuli. Pikiran tersebut hilang ketika mereka mengetahui saya bisa berkomunikasi dengan baik."

Selain menjadi panutan bagi mahasiswa kedoktera, Dr. Stern juga sibuk dalam kegiatan konsultasi bersama kelompok, asosiasi, dan agensi medis. Kesibukannya ini bahkan sudah membawanya hingga ke Cina. MIMS

Bacaan lain:
5 kasus tertinggalnya benda asing dalam tubuh pasien
Resep hijau: Dokter meresepkan perubahan gaya hidup
Harga komentar negatif pasien
5 sifat desainer yang bisa contoh


Sumber:
http://www.nydailynews.com/news/national/paralyzed-surgeon-learns-operate-article-1.1531812 
https://www.theguardian.com/society/2003/jan/07/health.healthandwellbeing 
http://www.georgiahealthnews.com/2016/01/living-disability-helps-steer-young-doctor-fascinating-specialty/ 
http://www.amednews.com/article/20050117/profession/301179956/4/
http://www.mid-day.com/articles/disabled-doctor-fights-medical-babus-and-wins/220790