Survey nasional skala besar tahun 2011 menunjukkan bahwa konsumsi alkohol di Malaysia ternyata lebih tinggi dari yang dibayangkan. Satu dari sepuluh warga Malaysia mengonsumsi alkohol, dan lebih dari 20% kelompok ini mengonsumsi alkohol dengan jumlah yang sangat tinggi.1 Penelitian seluruh populasi warga Malaysia juga menemukan bahwa semua orang dari berbagai kalangan usia memiliki kebiasaan minum alkohol, meskipun angkanya lebih rendah secara signifikan di bawah usia legal atau usia 18 tahun.

Namun, interaksi antara alkohol dan obat belum mendapat perhatian cukup. Interaksi alkohol dan obat dapat mengganggu kerja obat penyakit kronik, apalagi jika dikonsumsi pada waktu yang bersamaan. Penelitian terbaru menemukan bahwa banyak pecandu alkohol mengobati diri mereka sendiri untuk penyakit kronik sehingga mengalami efek samping berupa interaksi alkohol-obat.

Obat penghilang nyeri

Interaksi signifikan dapat ditemukan pada alkohol dan beberapa kelas obat penghilang nyeri, mulai dari analgesik opioid hingga OAINS dan bahkan paracetamol. Nyeri otot skeletal tubuh dan leher bawah merupakan penyakit dengan prevalensi tinggi di banyak negara, dan membuat pasien melakukan pengobatan sendiri dengan obat over-the-counter. Banyak obat penghilang nyeri, di luar opioid, yang tersedia di klinik atau apotek sehingga memiliki kemungkinan tinggi banyak dikonsumsi orang.

1. Paracetamol

Konsumsi alkohol jangka panjang dengan jumlah biasa hingga berlebihan bersama paracetamol dapat meningkatkan risiko hepatotoksisitas. Namun, masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mendukung hasil penelitian ini. Interaksi antara paracetamol dan alkohol dapat menyebabkan induksi enzim mikrosom hepar, yang kemudian akan mengakselerasi metabolisme paracetamol dan memproduksi metabolit toksik ke hepar.2 Orang yang mengonsumsi alkohol jangka panjang, disarankan untuk menghindari paracetamol, dan disarankan untuk tidak melebihi dosis rekomendasi 4 gram per hari, baik untuk dewasa dan anak-anak berusia di atas 12 tahun.

2. Obat anti-inflamasi non-steroid (OAINS)

OAINS diketahui dapat meningkatkan risiko gangguan GI, dan konsumsi alkohol bersamaan dengan OAINS dalam jangka panjang akan semakin meningkatkan risiko tersebut. US FDA mengharuskan perusahaan farmasi untuk memberi label OAINS over-the-counter untuk mengingatkan konsumen.3. Apoteker harus mengetahui pasien mana yang sering mengonsumsi alkohol dan OAINS dalam jangka panjang.

3. Analgesik opioid

Masalah penggunaan opioid dan alkohol secara bersamaan merupakan hal yang sulit diselesaikan. Pasien terkadang tidak sadar mengonsumsi obat ini, terutama ketika pasien kecanduan alkohol dan narkotika, seperti heroin. Sebagai alternatif, pasien biasa menggantinya dengan methadone, tetapi mereka biasa tetap mengonsumsi alkohol. Dalam kasus ini, alkohol dapat meningkatkan efek depresi sistem saraf pusat (SSP) dari analgesik opioid, sehingga dapat mengganggu kerja otak saat mengambil keputusan, berpikir, serta kemampuan psikomotorik. Interaksi alkohol dan opioid ini bisa menghasilkan efek fatal, terutama jika dikonsumsi dalam dosis tinggi.4

Pasien tidak boleh mengonsumsi alkohol bersamaan dengan formulasi hidrokodon lepas lambat, jenis opioid yang sering diberikan untuk terapi nyeri kronik dari kanker atau untuk perawatan paliatif. Beberapa formulasi ini memiliki kelarutan tinggi dalam etanol dan dapat mengganggu mekanisme pelepasannya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat 40% peningkatan absorpsi hidrokodon ketika dikonsumsi bersama alkohol pada kondisi perut kosong.4,5

Metformin

Metformin bukan obat penghilang nyeri, tetapi tingginya penggunaan di masyarakat membuat kami perlu memberi informasi mengenai obat ini. Metformin merupakan obat yang membantu mengontrol nilai gula darah pasien diabetes tipe 2. Konsumsi alkohol dalam jumlah tinggi dapat meningkatkan efek metformin pada metabolisme laktat dan kemungkinan mengarahkan ke laktat asidosis. Hubungan antara dua agen ini masih menjadi perdebatan, karena peningkatan laktat hanya dapat ditemukan dalam pengaturan eksperimental tetapi tidak dapat ditemukan pada pasien tanpa komorbiditas tambahan.6 Namun, apoteker perlu selalu menyarankan pasien diabetes untuk menggunakan metformin untuk menghindari minum alkohol atau hanya mengonsumsi secara langsung. MIMS

Sources: 
1. Mutalip MHBA, Kamarudin RB, Manickam M, Abd Hamid HAB, Saari RB. Alcohol consumption and risky drinking patterns in Malaysia: Findings from NHMS 2011. Alcohol Alcohol. 2014;49(5):593–9. 
2. Prescott LF. Paracetamol, alcohol and the liver. Br J Clin Pharmacol. 2001 Dec 24;49(4):291–301. 
3. US FDA. FDA Requires Additional Labeling for Over-the-Counter Pain Relievers and Fever Reducers to Help Consumers Use Products Safely [Internet]. U.S. Food and Drug Administration. 2009 [cited 2016 Sep 25]. Available from: http://www.fda.gov/NewsEvents/Newsroom/PressAnnouncements/ucm149573.htm
4. Anon. Drug interactions between Alcohol (contained in alcoholic beverages) and Xylon 10 [Internet]. Drugs.com. 2016 [cited 2016 Sep 25]. Available from: https://www.drugs.com/drug-interactions/alcohol-contained-in-alcoholic-beverages-with-xylon-10-1034-14582-1273-18001.html?professional=1
5. Darwish M, Bond M, Yang R, Tracewell W, Robertson P. Assessment of Alcohol-Induced Dose Dumping with a Hydrocodone Bitartrate Extended-Release Tablet Formulated with CIMA® Abuse Deterrence Technology. Clin Drug Investig. 2015 Oct 14;35(10):645–52. 
6. Andersen LW, Mackenhauer J, Roberts JC, Berg KM, Cocchi MN, Donnino MW. Etiology and Therapeutic Approach to Elevated Lactate Levels. Mayo Clin Proc. 2013 Oct;88(10):1127–40.