Produk emas sering kali digunakan sebagai ornamen, gelang dan liontin. Ahli kecantikan menjual produk perawatan wajah dari emas demi mendapat keuntungan. Bahkan sejarah mencatat bahwa kecantikan Cleopatra didapatnya dari masker wajah yang terbuat dari emas murni.

Chrysotherapy - menggunakan garam emas untuk terapi penyakit - pertama kali diperkenalkan di tahun 1890, ketika ahli bakteriologi Jerman Robert Koch menemukan bahwa senyawa emas bisa menghambat bertumbuhan basilus yang menyebabkan tuberkulosis.

Sekarang, emas juga banyak digunakan di bidang kesehatan. Tenaga kesehatan menggunakan emas mulai dari untuk prosedur diagnosis dan terapi medis.

1. Terapi kanker

Senyawa emas telah banyak digunakan untuk terapi berbagai jenis kanker, yang paling menarik adalah bagaimana manusia menggunakan emas untuk kemoterapi sel tumor.

"Meskipun tidak semua obat kanker mengandung senyawa logam, namun terapi yang paling banyak digunakan untuk berbagai macam kanker seperti cisplatin, memiliki kandungan platinum di dalamnya," kata Richard Halliday dari World Gold Council.

Meskipun demikian, seperti kebanyakan obat kanker lain, obat ini membunuh sel sehat bersamaan dengan sel kanker, sehingga menyebabkan efek samping seperti kerontokan rambut.

Salah satu terobosan paling menjanjikan adalah penggunaan nanopartikel emas. Karena biokompatibilitas emas, nanopartikel bisa diinjeksi secara intravena dan kemudian secara alami akan terakumulasi dalam daerah spesifik tertentu seperti pada sel tumor. Menurut Halliday, peneliti AS sedang melakukan penelitian klinis mengenai sistem penghantaran obat menggunakan partikel kecil emas untuk menargetkan ke obat antikanker poten dengan efek samping minimal.

Penggunaan emas juga sangat berguna untuk terapi kanker prostat, dimana injeksi pelet emas mikroskopik bisa membantu menghambat pertumbuhan tumor. "Posisi emas bisa terdeteksi menggunakan X-ray,  sehingga dokter bisa mengarahkan molekul emas ke posisi tumor dalam satu atau dua milimeter," ungkap Halliday.

2. Deteksi HIV/AIDS

Hal serupa, nanoteknologi telah menciptakan suatu kemajuan dalam terapi dan pencegahan HIV/AIDS. Peneliti dari Imperial College London menunjukkan bahwa teknik nanopartikel emas eksperimental bisa digunakan untuk mengetahui posisi molekul target pada konsentrasi yang sangat rendah, dengan demikian membuat mereka bisa melakukan deteksi dini.

Meskipun belum ada obat yang bisa menyembuhkannya, peneliti tetap merasa ada harapan. Dalam penelitian di Intalia, peneliti menggunakan obat berbasis emas yang disebut auranofin, obat yang pada mulanya digunakan untuk terapi rheumatoid arthritis, untuk memberi terapi ke enam monyet terinfeksi virus menyerupai HIV. Hasilnya signifikan: obat ini bisa mengerutkan sel CD4 terinfeksi virus.

Meskipun demikian, penelitian klinis tidak bisa langsung dilakukan sebelum dilakukan evaluasi yang menyeluruh. "Kami berusaha untuk tidak melakukannya langsung pada manusia," kata Enrico Garaci, presiden dari Italian Institute of Health, dan penulis penelitian.

"Ini karena fase penelitian ini bisa jadi merupakan satu-satunya penelitian pembuktian-konsep, dan kemi telah mendapatkan buktinya dari monyet. Kami lebih memilih untuk memberi fokus terapi ke monyet terlebih dahulu menggunakan kombinasi beberapa teknik terapi."

3. Terapi rheumatoid arthritis

Salah satu terapi paling awal untuk rheumatoid arthritis, standar emas, disease-modifying anti-rheumatic drug (DMARD), telah menurun penggunaannya selama dua dekade terakhir karena adanya toleransi biologis dan non-biologis terhadap DMARD, seperti methotrexate.

Bentuk paling umum dari terapi emas adalah melalui injeksi karena formulasi emas secara oral tampaknya kurang efektif. Pasien biasanya menerima injeksi setiap minggu yang seiring berjalannya waktu akan diturunkan menjadi satu kali sebulan.

Menurut satu kajian, orang-orang yang menerima injeksi emas mengalami 30% penurunan pembengkakan sendi dibandingkan dengan orang-orang yang menerima placebo. Penulis menyimpulkan bahwa "meskipun penggunaannya bisa jadi dibatasi oleh toksisitasnya, namun emas yang diinjeksi telah terbukti memberikan efek signifikan secara klinis dan statistik untuk terapi jangka pendek pasien rheumatoid arthritis."

Jinoos Yazdany, seorang profesor asosiasi medis di Universitas California di San Francisco, menjelaskan, "Efikasi dan efek samping obat yang lebih baru sangat baik untuk memperlambat perkembangan penyakit dibandingkan obat lain."

4. Rapid Diagnostic Test (RDT)

Nanoteknologi telah mendominasi hampir semua RDT di dunia dan membuat banyak perubahan dalam diagnosis penyakit selama 10 tahun terakhir. Tes ini dilakukan dengan emas, sehingga total konsumsi emas telah meningkat tajam, diikuti dengan peningkatan jumlah dan jenis RDT, yang kemudian berubah menjadi outcome kesehatan yang lebih baik.

Misalnya, nanopartikel emas telah mengubah cakupan diagnosis malaria, penyakit yang berpotensi mengancam nyawa. Tes tersebut, bisa dianggap sederhana, bisa dipercaya dan murah, dengan menggunakan sejumlah kecil emas untuk identifikasi penyakit pasien hanya dalam waktu kurang dari 20 menit. Partikel emas ini bisa membantu memproduksi perubahan warna sederhana untuk mendeteksi keberadaan malaria dalam sampel darah pasien.

David bell dari Foundation for Innovative New Diagnostics menyatakan, "Di tingkat nano, kuantitas emas yang digunakan sangat rendah. Di sini, kami melihat diagnosis malaria bisa dilakukan untuk jutaan orang hanya dengan harga yang murah, menunjukkan bahwa teknologi emas bisa digunakan dalam dunia medis di seluruh penjuru dunia." MIMS

Bacaan lain:
Berkontribusi ke dunia kesehatan dengan mendonasikan catatan riwayat medis pasien
Hilangnya dua ilmuwan yang telah banyak merevolusi dunia kesehatan
3 dokter yang banyak berkontribusi untuk kemajuan dunia pengobatan
Apa yang perlu diketahui tenaga kesehatan mengenai pasien generasi milenial


Sumber:
https://www.smarteranalyst.com/2017/02/16/spdr-gold-shares-gld-medical-applications-drive-demand-gold/
http://www.everydayhealth.com/rheumatoid-arthritis/treatment/gold-therapy-for-rheumatoid-arthritis/
http://www.gold.org/news-and-events/press-releases/world-malaria-day-gold-helps-transform-malaria-diagnosis
http://www.dailymail.co.uk/health/article-1024865/Medicine-going-gold-experts-rediscover-ancient-properties-precious-metal.html
http://www.gold.org/technology/gold-medicine
http://www.aidsmap.com/Gold-based-drug-shows-promise-in-clearing-HIV-reservoir-in-monkey-study/page/1771585/
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC2861897/