Kepintaran buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam aplikasi untuk tujuan medis sekarang sudah berhasil diciptakan. Aplikasi ini didesain untuk membantu pasien menghemat waktu yang sangat berharga – khususnya untuk masalah kesehatan ringan yang bisa diatasi di rumah – sebelum mereka bersusah-payah datang ke tempat praktek dokter.

1. myHEROsg app: Memberitahu kapan pasien perlu masuk UGD atau periksa ke dokter 

The myHEROsg app helps patients decide if they should go to a GP or the emergency department. Photo credit: NUS Yong Loo Lin School of Medicine
The myHEROsg app helps patients decide if they should go to a GP or the emergency department. Photo credit: NUS Yong Loo Lin School of Medicine


Berasal dari ide Mr Tan, myHEROsg app merupakan aplikasi hasil kerjasama mahasiswa kedokteran NUS dengan mahasiswa-mahasiswa dari fakultas lain. Mereka ingin menciptakan aplikasi yang diteliti Mr Tan saat beliau masih merupakan mahasiswa kedokteran yang sedang kerja praktek di unit gawat darurat (UGD).

Mengenai bagaimana ia mendapat ide ini, Mr Tan menjelaskan, "Saat kerja praktek di UGD, di tahun keempat kuliah, kami menyadari banyak pasien tidak puas atau frustasi karena mereka harus menunggu dalam waktu lama. Namun sebenarnya, pasien ini bisa meminta bantuan di klinik dokter umum biasa."

Inilah bagaimana Mr Tan dan sejawat dari NUS Medicine mengambil satu keputusan untuk mengatasi masalah pasien. Mereka menciptakan aplikasi yang membuat pasien bisa memeriksa apakah mereka perlu pergi ke UGD atau dokter umum untuk mengatasi masalah kesehatan mereka.

Aplikasi myHEROsg (Health Emergency Resource Organizer) merupakan salah satu dari 17 program inovasi mahasiswa dalam bidang kesehatan di ajang Medical Grand Challenge, yang diadakan untuk mendorong mahasiswa kedokteran untuk mencari solusi kreatif yang mungkin diaplikasikan dalam industri kesehatan.

Tantangan ini juga ditujukan untuk membantu pengembangan ide, diskusi dan pencarian koneksi di antara mahasiswa dari beragam fakultas berbeda – untuk membentuk tim dari berbagai disiplin ilmu. Profesor asosiasi Yeoh Khay Guan, Dekan NUS Medicine, menjelaskan bahwa tantangan ini menciptakan "ketertarikan jangka panjang dalam hal menciptakan inovasi dan juga membantu mahasiswa mengatasi masalah sehari-hari."

2. MissiQ app: Memberikan informasi waktu tunggu pasien di klinik secara langsung

Aplikasi lain yang diajukan dalam ajang ini adalah MissiQ, dibentuk untuk meminimalisir waktu tunggu pasien di klinik rawat jalan. Ide menciptakan aplikasi ini berasal dari mahasiswa kedokteran tahun ketiga, Benson Ang.

Menurut Ang, idenya berasal dari pengalaman pribadi saat ia menunggu waktu periksanya di klinik. Ia menjelaskan, "Saya harus menunggu di klinik dan menunggu giliran. Saya tidak bisa meninggalkan klinik karena saya tidak tahu kapan giliran saya tiba. Saya selalu merasa frustasi dengan situasi ini."

Inilah mengapa ia ingin menciptakan aplikasi yang bekerja seperti chatbot, yang merespon antrian pasien berdasarkan waktu tunggu di klinik rawat jalan. Dengan demikian, pasien bisa mengetahui waktu pasti gilirannya periksa. Dengan kata lain, aplikasi ini akan membantu mereka menghemat lebih banyak waktu.

3. Tiny breathalyser: Mendeteksi penyakit dari hembusan napas pasien 

Electrodes on the breathalyser are connected to a chemical material patch that will react to the biomarker being tested. Photo credit: Amanda Hoh/ABC Radio Sydney
Electrodes on the breathalyser are connected to a chemical material patch that will react to the biomarker being tested. Photo credit: Amanda Hoh/ABC Radio Sydney


Tiny breathalyser diciptakan oleh Dr noushin Nasiri untuk menciptakan sensor terkecil di dunia yang bisa mendeteksi penyakit melalui hembusan napas seseorang. Dr Nasiri, yang merupakan seorang teknisi material dari Universitas Teknologi Sydney, ingin membuat alat analisis napas yang berbeda – lebih sensitif dan lebih kecil dibandingkan dengan yang digunakan oleh polisi.

Mudahnya ini merupakan sebuah alat analisis napas yang sangat kecil, dengan kemampuan penciuman anjing. Dengan kata lain, dengan bantuan nanoteknologi, alat ini bisa menganalisis napas Anda untuk mendeteksi penyakit tertentu. Teknologi ini berbentuk persegi panjang, dan mungkin di masa depan akan diselipkan dalam smartphone Anda.

Selain itu, alat ini juga memiliki sensor dasar yang dilapisi dengan bahan kimia, yang sangat sensitif atau bereaksi dengan biomarker tertentu. Dengan bantuan nanoteknologi, sensor ini menjadi sangat sensitif terhadap partikel nano dalam napas, dan bisa menghitung konsentrasi biomarker tersebut.

Karena biomarker diproduksi saat tubuh mengalami perubahan tertentu – dan kemudian keluar dari tubuh (misalnya melalui urin, keringat, air mata, saliva atau napas). Menurut Dr Nasiri, teknologi ini mirip dengan "tes darah; kecuali fakta bahwa alat ini bisa digunakan tanpa jarum suntik dan hasilnya bisa langsung diperoleh."

Sekarang, alat analisis napas ini bisa mendeteksi empat dari delapan penyakit. Tujuannya adalah untuk mengembangkan sensor yang mampu mendeteksi lebih dari sepuluh penyakit hanya dalam satu kali hembusan napas. Kemungkinan teknologi baru ini sudah bisa dipasarkan dalam sekitar tiga tahun ke depan.

4. Aplikasi Ada: Dokter dengan kepintaran buatan yang membantu pasien mengetahui penyakit yang diderita

Aplikasi gratis, Ada Personal Health Companion sekarang tersedia untuk diunduh pengguna telepon dan tablet pintar.

Ini merupakan salah satu aplikasi kesehatan yang bisa memberitahu penggunanya alasan mengapa mereka sakit. Pengguna hanya perlu mendaftarkan gejala dan menjawab beberapa pertanyaan untuk langsung mendapatkan diagnosis penyakit mereka.

Dikembangkan oleh Ada Health, aplikasi ini merupakan salah satu aplikasi kesehatan yang membuat penggunanya bisa mengetahui penyakit apa yang diderita – tanpa harus memeriksakan diri ke dokter. Selain itu, aplikasi ini juga menyediakan pilihan diskusi dengan dokter manusia – dengan bayaran sekitar GBP14.99 (sekitar Rp 269.482,19).

Sama seperti orang-orang yang seringkali menggunakan Google untuk mencaritahu penyakit yang diderita, aplikasi pintar ini juga ingin memberikan saran medis yang berguna. Dengan demikian, pengguna harus melewati tiga proses pemeriksaan untuk mendapat saran medis yang bisa dipercaya.

Sejauh ini sudah banyak konsumen yang menggunakan aplikasi kesehatan, khususnya karena kepintaran buatan memang bisa dipercaya untuk mendeteksi penyakit tertentu. Tentu saja, hal ini bisa dicapai karena bantuan berbagai hasil penelitian selama bertahun-tahun sehingga peneliti berhasil mengembangkan platform pintar yang bisa dipercaya dan dengan tingkat akurasi tinggi. MIMS 

Ada app is a user-friendly AI health companion that checks the symptoms of patients by asking a series of individualised questions.
Ada app is a user-friendly AI health companion that checks the symptoms of patients by asking a series of individualised questions.


Bacaan lain:
Akankah Cina mengalahkan AS dan mendominasi industri bioteknologi?
Bagaimana perawat bisa memanfaatkan teknologi untuk memajukan kualitas perawatan untuk pasien
Teknologi baru pengubah DNA berhasil dikembangkan oleh peneliti di Singapura

Sumber:
http://www.abc.net.au/news/2017-07-31/detecting-disease-in-breath-with-world-smallest-breathalyser/8759050
https://www.newscientist.com/article/2141247-an-app-a-day-keeps-the-doctor-away/
http://www.tnp.sg/news/singapore/nus-students-develop-apps-help-patients