Seiring dengan bertambahnya usia, risiko menderita penyakit neurodegeneratif juga semakin meningkat. Dalam artikel ini, kami akan membahas perkembangan terbaru dalam ranah neurologi.

1. Parkinson mungkin berasal dari sistem gastrointestinal

Peneliti asal Swedia baru-baru ini menemukan bahwa kemungkinan penyakit Parkinson berasal dari usus dan menyebar melalui nervus vagus sampai ke otak. Mereka membandingkan 9.430 individu yang menjalani operasi vagotomi dengan 377.000 lainnya, dan menemukan bahwa 19 individu yang menjalani operasi "vagotomi truncal" – pengangkatan cabang utama nervus vagus – memiliki risiko 40% lebih rendah untuk menderita penyakit Parkinson.

"Kami tidak terlalu terkejut, sebab penelitian lain juga menunjukkan adanya hubungan antara usus dan penyakit Parkinson," ujar Karin Wirdefeldt, kepala studi dan profesor epidemiologi medis dan biostatistik di Institut Karolinska di Stockholm.

"Bukti lain dalam hipotesis ini adalah para penderita penyakit Parkinson seringkali mengalami masalah gastrointestinal seperti konstipasi, sejak sepuluh tahun sebelum akhirnya menderita Parkinson," imbuh Bojing Liu, pendamping studi ini.

Meski demikian, studi ini hanya menghasilkan keterkaitan, dan tetap dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikannya.

"Namun menarik, hubungan tersebut tampak menetap," ujar kepala kantor ilmiah Yayasan Parkinson Nasional, James Beck. "Kaitan antara keduanya bukanlah hubungan sebab-akibat, tetapi menggarisbawahi proses yang terjadi di dalam usus dan pengaruhnya terhadap penyakit Parkinson."

2. Mencari manfaat lain obat yang sudah ada untuk terapi penyakit neurodegeneratif

Obat antidepresan dan anti-kanker tertentu memberi efek pencegahan terhadap penyakit Alzheimer, demensia, dan penyakit degeneratif otak lain menurut peneliti dari Universitas Cambridge, Universitas Nottingham dan Pusat Penelitian Toksisitas Medis di Leicester.

Sejak tahun 2013, tim peneliti menguji 1000 obat-obatan dan menemukan "dua jenis obat neuroprotektif". Obat antidepresan trazodone hidroklorida dan zat anti kanker dibenzoylmethane (DBM) dapat mengembalikan produksi protein otak pada tikus percobaan dan mengurangi penyusutan volume otak.

"Kami berhasil memantau apakah pendekatan yang kami gunakan dapat memperlambat perkembangan penyakit Alzheimer selama dua sampai tiga tahun, dan ini merupakan suatu langkah awal yang menggembirakan dalam mengobati penyakit degeneratif," ujar ketua penelitian ini Professor Giovanna Malluci. Penambahan terapi trazodone pada lansia sudah disetujui, "saat ini kami sedang mencari tahu apakah pemberian obat ini secara dini pada pasien dapat menghentikan ataupun memperlambat perjalanan penyakit tersebut," ujarnya.

Meskipun obat ini "menunjukkan potensi baru dalam modifikasi pengobatan demensia", pengobatan utamanya tetap harus ditemukan dan uji coba terapinya masih diperlukan sebagai bukti penelitian.

"Jika penelitian ini diuji coba pada manusia, baik trazodone dan DBM dapat menjadi satu terobosan besar di masa depan," tambah Dr David Dexter dari Yayasan Parkinson di Inggris.

3. Mendeteksi gejala awal penyakit Alzheimer dengan tes grafis sederhana

The graphic characters called Greebles may be a potential tool in detecting signs of Alzheimer’s disease. Photo credit: Science Daily/ Michael J. Tarr, Center for the Neural Basis of Cognition and Department of Psychology, Carnegie Mellon University
The graphic characters called Greebles may be a potential tool in detecting signs of Alzheimer’s disease. Photo credit: Science Daily/ Michael J. Tarr, Center for the Neural Basis of Cognition and Department of Psychology, Carnegie Mellon University

Sebuah tes yang unik dan sederhana menggunakan gambar grafik dapat digunakan untuk mendeteksi gejala awal penyakit Alzheimer di kemudian hari, sebuah pernyataan dari penelitian terbaru.

Menurut penelitian tersebut, individu dengan predisposisi genetik terhadap penyakit Alzheimer lebih sulit membedakan karakter grafis yang ada – dikenal sebagai Greebles – jika dibandingkan dengan individu dengan risiko lebih rendah. Peserta berusia 40 sampai 60 tahun dibagi menjadi dua kelompok: Yang pertama terdiri dari individu yang dianggap berisiko, sementara yang lain tidak memiliki riwayat keluarga penderita Alzheimer.

"Kami menemukan perbedaan signifikan antara kelompok berisiko dan kelompok kontrol. Kedua kelompok menjadi lebih baik dengan latihan, namun kelompok berisiko tetap tertinggal jika dibandingkan dengan kelompok kontrol selama proses berlangsung," kata peneliti Emily Mason, dari Universitas Louisville (UofL).

Menurut Brandon Ally, penulis senior dan asisten profesor bedah saraf di UofL, meski bukan penanda definitif, Greebles dapat digunakan sebagai alat indentifikasi yang murah untuk identifikasi awal penyakit Alzheimer, dan dapat memperbaiki ketajaman diagnostik pada individu berisiko tinggi saat digabungkan dengan biomarker dan riwayat penyakit sebelumnya.

"Sekarang ini, di saat kita sudah bisa mendeteksi penyakit, kita sebenarnya sudah terlambat – karena sudah banyak kerusakan yang muncul di otak," tambahnya.

"Kami ingin melihat perubahan halus yang terjadi di otak sedini mungkin. Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan uji kognitif yang diarahkan pada area otak yang sangat spesifik." MIMS

Bacaan lain:
Kemajuan ilmu pengetahuan mengenai penyakit Parkinson
Alat baru untuk penderita penyakit Parkinson
Obat "lepas lambat" yang sebenarnya

Sumber:
https://consumer.healthday.com/cognitive-health-information-26/parkinson-s-news-526/parkinson-s-disease-may-originate-in-gut-study-says-722060.html 
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/04/170426183129.htm 
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmedhealth/behindtheheadlines/news/2017-04-20-two-older-drugs-could-be-repurposed-to-fight-dementia-/ 
http://www.skynews.com.au/news/world/europe/2017/04/20/cancer-drugs-could-help-alzheimer-s--study.html 
http://www.bbc.com/news/health-39641123 
https://arstechnica.co.uk/science/2017/04/drugs-already-in-medicine-cabinets-may-fight-dementia-early-data-suggests/ 
http://www.huffingtonpost.co.uk/entry/this-test-could-reveal-your-risk-of-alzheimers-disease-in-later-life_uk_58ede890e4b0c89f9122a645 
https://www.sciencedaily.com/releases/2017/04/170411085745.htm