Mulai dari imunoterapi hingga pengobatan terpersonalisasi, sudah banyak terobosan baru dalam penelitian kanker selama beberapa tahun terakhir ini. Dalam artikel ini, berikut tiga pengembangan terbaru dalam pengobatan kanker.

1. "Biopsy" deteksi darah untuk kekambuhan kanker dengan presisi

Peneliti dari Institut Francis Crick di London berhasil mengembangkan tes darah revolusioner yang bisa mendeteksi kekambuhan kanker sebelum tumor tampak di gambar radiologi konvensional. Biopsy cairan ini bekerja dengan mendeteksi DNA termutasi yang dilepaskan ke aliran darah oleh sel kanker.

Sampel DNA dari 100 pasien penderita tumor dengan kanker paru sel non-kecil diambil dan dianalisis untuk membentuk cetakan genomik terpersonalisasi untuk setiap kandidat. Peneliti kemudian melakukan tes darah mingguan enam hingga delapan kali untuk memeriksa DNA kanker, dan nilai volume batas minimum pengujian adalah hanya 0,3 milimeter kubik.

Menurut ahli genetika kanker dan pemimpin penelitian Profesor Charlie Swanton, DNA tumor sirkulasi memiliki presisi yang baik, dibuktikan dengan hasil penelitian yang menyatakan bahwa nilai DNA bisa diturunkan hingga tingkat tidak terdeteksi dalam waktu 48 jam setelah operasi ketika pasien masih dalam kondisi remisi. Sebaliknya, meningkatnya angka ini ditemukan pada pasien yang mengalami kekambuhan kanker, menunjukkan bahwa kanker masih ada atau sudah mengalami metastasis.

"Metode ini membuat kita bisa mengidentifikasi pasien berisiko tinggi," katanya. "Kami memiliki nilai prediksi 92% bahwa kanker Anda akan kembali kambuh dalam hitungan 350 hari."

"Meskipun hanya satu fraksi kanker yang sekarang bisa dideteksi pada tahap letal, namun dimasa depan ada kemungkinan deteksi kanker di tahap awal yang bisa memberikan manfaat besar dalam terapi pasien," tambah Nitzan Rosenfeld dari Institut Penelitian Kanker UK Cambridhe, yang memprediksikan bahwa "hampir semua" pasien kanker akan melakukan tes DNA di masa depan.

2. Potensi sistem penghantaran obat kanker dikembangkan menggunakan sperma

Meskipun kebanyakan terapi anti-kanker menargetkan sel kanker, namun obat ini masih memberikan efek merusak ke sel dan organ lain sehingga menyebabkan efek samping serius.

Maka dari itu, peneliti dari Universitas Teknologi Chemnitz dan Institut Nanosains Integratif di Jerman menemukan metode baru untuk menghantarkan obat anti-kanker ke bagian spesifik sistem reproduksi wanita untuk menyembuhkan kanker ginekologi, endometriosis dan juga penyakit inflamasi pelvis - dengan menggunakan sperma.

Sperma bisa berenang karena memiliki flagellum, dan cocok untuk mengarahkan ke lingkungan dalam saluran reproduksi wanita. Selain itu, membran sperma bisa dimanfaatkan untuk menyimpan dan menghantarkan obat ke sel target karena bisa menghindari dilusi atau kerusakan dari sistem imun tubuh dan enzim.

Tumor-targeted drug delivery by a sperm-hybrid micromotor. Photo credits: Scientifist/ Cornell University
Tumor-targeted drug delivery by a sperm-hybrid micromotor. Photo credits: Scientifist/ Cornell University


Tim peneliti merendam sel sperma sapi dalam obat kemoterapi doxorubicin, dan membentuk "pelindung" untuk sperma menggunakan bentuk print 3D yang disebut nanolitografi. Bagian ujungnya diberikan empat tangan fleksibel atau mikromotor yang akan membengkok dan melepaskan sperma ketika kontak dengan sel target. Dengan memanfaatkan lingkungan magnetik, peneliti berhasil memandu sperma ke arah spesifik, dan bisa menghantarkan obat anti-kanker ke sel kanker HeLa yang dikembangkan di cawan petri laboratorium.

"Meskipun masih ada berbagai tantangan yang harus diselesaikan sebelum sistem ini bisa digunakan dalam lingkungan in-vivo, namun sistem hybrid-sperma ini bisa diaplikasikan dalam diagnosis dan terapi kanker in-situ di masa depan," kata peneliti.

3. Meningkatkan angka kesembuhan pasien glioblastoma dengan kombinasi kemoterapi kanker

Nilai tengah kesembuhan pasien dengan glioblastoma (GBM) adalah kurang dari 15 bulan, tetapi kombinasi vaksin tertarget antigen sitomegalovirus (CMV) pp65 dan temozolomide dosis tinggi bisa meningkatkan angka kesembuhan pasien, menurut penelitian yang dilakukan peneliti dari Universitas Duke.

"Outcome klinis pasien GBM yang menerima kombinasi ini sangat mencolok," kata kepala penelitian Kristen Batich.

CMV memiliki afinitas GBM, dan protein virus diekspresikan pada sekitar 90% tumor. Dengan memanfaatkan hal ini, peneliti menggunakan virus untuk menyoroti tumor untuk sistem imun dengan menargetkan virus dengan sel dendritik spesifik pp65.

Penelitian dilakukan pada 11 pasien yang menerima terapi kombinasi, dan menunjukkan bahwa kandidat memiliki nilai tengah pasien bebas perkembangan penyakit adalah 25,3 bulan, dan nilai tengah kesembuhan adalah 41,1 bulan. Kondisi kesehatan tiga kandidat pasien tidak semakin parah bahkan tujuh tahun setelah diagnosis.

"Dosis temozolomide menginduksi status kuat limfopenia," jelas Batich. "Dengan vaksin spesifik-antigen yang ada sekarang, pengalihan sistem imun bisa langsung diarahkan ke organ target."

Hasil ini sangat membesarkan hati, meskipun demikian, penelitian dengan satu cabang intervensi hanya memiliki cohort yang kecil, dan percobaan robust akan sangat penting untuk konfirmasi penemuan ini. MIMS

Bacaan lain:
Ada kanker dalam fosil berusia 1.700.000 tahun
Apakah kanker muncul karena "nasib buruk"?
Fototerapi bisa menginduksi sel kanker untuk "bunuh diri" hanya dalam waktu 2 jam
Mantan pengidap kanker mengalami penderitaan mental dan finansial


Sumber:
http://www.bbc.com/news/health-39658680 
https://www.theguardian.com/society/2017/apr/26/dna-based-test-can-spot-cancer-recurrence-a-year-before-conventional-scans 
http://scientifist.com/newly-developed-drug-delivering-system-use-sperm-weapon-cancer-treatment/ 
http://www.sciencealert.com/sperm-are-being-turned-into-tiny-drug-smugglers-to-treat-cancer 
https://www.eurekalert.org/pub_releases/2017-04/aafc-gpm041217.php 
http://www.aacr.org/Newsroom/Pages/News-Release-Detail.aspx?ItemID=1047#.WQGHvmmGOUl