AI atau Artificial Intelligence (kepintaran buatan) merupakan teknologi terbaru yang mengubah industri medis. Dengan kemampuan dalam menghubungkan antara gejala dan penyebab, diikuti dengan membuat keputusan yang sama dengan dokter berpengalaman, sehingga bisa membantu tenaga kesehatan dalam mendesain rencana terapi dan menemukan metode yang paling cocok untuk setiap pasien.

Dengan kemampuan untuk melakukan aspek berulang dan monoton dalam suatu pekerjaan, AI bisa dimanfaatkan untuk lebih banyak menyelamatnya nyawa.

1. Mendel.ai

Mendel.ai, dengan nama sesuai dengan bapak genetika modern, Gregor Mendel, merupakan hasil karya dari Dr Karim Galil. Karena lelah dengan catatan riwayat kesehatan pasien yang berantakan, lelah tidak bisa menyelamatkan nyawa pasien disebabkan kanker dan mencoba menemukan percobaan klinis baru untuk menemukan solusi yang akan menyembuhkan pasien, Galil menciptakan sebuah sistem pengorganisir dengan kepintaran buatan.

Mendal.ai bisa melakukan pencarian pada laporan saintifik untuk menemukan penelitian terbaru, khusus peneltiian medis, menggunakan algoritma yang bisa memahami bahasa yang banyak ditemukan dalam laporan saintifik. Kemudian ia akan membandingkannya dengan laporan pasien untuk menemukan terapi yang paling sesuai berdasarkan dengan kondisi pasien.

Karena hanya membutuhkan waktu beberapa menit, teknologi ini sangat berguna bagi dokter yang sibuk. Galil memprediksikan sistem ini juga akan sangat membantu pasien.

"Pasien kanker paru-paru, misalnya, mungkin akan menemukan 500 potensial penelitian pada clinicaltrials.gov (Amerika), dimana dalam setiap artikel terdapat kriteria unik dan banyak sekali yang harus dibaca dan diperiksa," ungkap Galil.

"Karena banyak sekali penelitian muncul dalam satu minggu, akan sangat sulit bagi seorang manusia biasa untuk terus mengikuti perkembangannya."

2. Mendeteksi aritmia jantung

Satu tim peneliti dari Universitas Stanford, dipimpin oleh Andrew Ng, berhasil mendesain model mesin pelajar yang menggunakan algoritma yang bisa mengidentifikasi aritmia jantung dari elektrokardiogram (ECG) lebih baik daripada seorang dokter.

Mesin jenis ini disebut juga mesin pembelajar dan akan berfungsi saat sejumlah besar data dimasukkan kepada penghubung neural terstimulasi dan parameternya akan diperiksa hingga ia menemukan sinyal ECG yang tidak normal. Untuk mengembangkan teknologi ini, tim bersama dengan perusahaan yang disebut iRhythm bisa membuat alat ECG.

Mereka memeriksa akurasi algoritma, dengan mengumpulkan 30.000 gambar dalam 30-detik dari bentuk aritmia tertentu pada pasien dibantu oleh lima dokter jantung berbeda. Kemudian, sejumlah tiga dokter kardiologi ahli menilai hasil kerja mereka.

Pasien biasanya diminta untuk mengenakan sensor ECG selama beberapa minggu sebelum dokter bisa mulai menemukan keanehan pada detak jantung pasien. Meskipun demikian, akan sulit untuk membedakan antara ketidakteraturan ini yang bisa jadi mengancam jiwa.

Diharapkan bahwa pendekatan dengan otomatisasi akan membuat diagnosis menjadi lebih baik dan kualitas perawatan tersedia dengan lebih baik di daerah dengan sistem kesehatan yang buruk. Meskipun demikian, untuk sekarang ini, Ng "didukung oleh banyak orang menyatakan bahwa alat ini bisa membuat diagnosis dengan akurasi lebih baik dibandingkan dokter."

3. CareSkore

CareSkore merupakan teknologi AI lain yang menggunakan mesin, kali ini adalah untuk mengantisipasi mortalitas. Dengan mengombinasikan data klinis, sosio-ekonomik, demografik, dan kepribadian, diharapkan teknologi ini bisa menggambarkan kondisi setiap pasien untuk tindakan pencegahan.

Ide dasarnya adalah bahwa AI bisa digunakan untuk menginformasikan dokter dari pasien yang cenderung tidak patuh pada jawdal periksa dan lupa atau secara sengaja tidak mengonsumsi obat mereka. Selain itu, diharapkan bahwa teknologi ini bisa digunakan untuk memprediksikan risiko kembalinya pasien ke rumah sakit dan risiko infeksi. Para dokter kemudian bisa menggunakan informasi tersebut untuk memberikan bantuan dan saran kepada pasien.

Teknologi ini juga bisa digunakan untuk mengirimkan pesan khusus dan telepon jika ada sesuatu yang terlewatkan. Juga bisa digunakan untuk membuat rekomendasi terhadap perawatan kondisi jangka panjang seperti diabetes. Sistem ini juga bisa digunakan dengan cara lain sehingga pasien bisa menginformasikan kepada dokter mereka mengenai gejala baru lain dan menanyakan mengenai perawatan mereka.

Informasi yang dikumpulkan bisa digunakan untuk pengembangan CareSkore dan teknologi ini juga bisa menggunakan data lingkungan seperti Google maps untuk dicocokan dengan data pasien. MIMS

Bacaan lain:
Tragedi kesehatan karena hidup sendirian – dan efeknya di dunia
Akankah Cina mengalahkan AS dan mendominasi industri bioteknologi?
5 teknologi yang bisa digunakan di rumah sakit

Sumber:
https://techcrunch.com/2017/07/01/mendel-ai-nabs-2-million-to-match-cancer-patients-with-the-latest-clinical-trials/
https://www.technologyreview.com/s/608234/the-machines-are-getting-ready-to-play-doctor/
https://techcrunch.com/2016/08/10/careskore-gets-4-3m-to-bring-machine-learning-to-preventive-care/