Dengan banyaknya pengetahuan yang tersedia secara online dan mudahnya belajar melalui telepon genggam, tablet, dan laptop, kuliah tradisional sekarang dianggap sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman.

Faktanya, banyak institusi mencari cara untuk mengubah pendekatan (metode) mereka mengajar mahasiswa kedokteran. Berikut beberapa contoh yang ada.

1. Mengadakan interaksi di kelas

Salah satu cara universitas mengubah cara mereka mengajar adalah dengan 'belajar aktif' dan salah satu sekolah yang menggunakan metode ini secara keseluruhan adalah Fakultas Kedokteran Universitas Vermont.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh William Jeffries, seorang dekan di universitas, "Ada banyak bukti yang menyatakan bahwa kuliah bukan cara terbaik untuk mengumpulkan kemampuan yang dibutuhkan untuk menjadi seorang ilmuwan atau dokter."

Pada 'belajar aktif', mahasiswa harus belajar materi sebelum kelas. Kemudian, saat di kelas, mahasiswa bekerja dalam kelompok untuk menggunakan pengetahuan mereka untuk menyelesaikan masalah kesehatan dalam kehidupan sehari-hari; dan kemudian mempresentasikan solusi mereka di depan kelas.

Kegiatan ini bisa dilakukan, misalnya, dalam kelas farmakokinetika. Bukannya hanya mengajarkan rumus dan memberikan contoh fungsi – namun mahasiswa juga diberikan contoh kasus. Setiap pasien diberikan obat pada dosis tertentu, pada waktu tertentu dan kelompok mahasiswa harus menyelesaikan pertanyaan mengenai aksi obat, dan konsentrasi obat dalam darah.

Confucius pernah berkata, "Beritahu saya dan saya akan lupa; tunjukan dan saya akan mengingatnya – libatkan saya dan saya akan mengerti." Benar memang, "saat Anda hanya memberitahu sesuatu, ingatan akan hal ini akan hilang seiring dengan berjalannya waktu, tetapi jika Anda diminta untuk menggunakan informasi tersebut, ingatan Anda akan menjadi lebih baik," sebut Jeffries. Faktanya, universitas ini berencana untuk menghentikan semua kegiatan perkuliahan di tahun 2019.

2. Memberikan pengetahuan mengenai sistem perawatan

Di universitas lain di Amerika, Universitas George Washington, mengubah metode pengajarannya dengan memberikan mahasiswa kesempatan untuk mempelajari sistem perawatan kesehatan yang akan mereka masuki di masa depan.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh Dr Lawrence Deyton, seorang dekan asosiasi senior dan otak di balik ide ini, "Tenaga kesehatan sekarang harus menyadari dan bisa bekerja berdasarkan fakta dari pasien mereka – saat mereka meninggalkan klinik atau meninggalkan rumah sakit – bisa pulang dan hidup dalam situasi dimana terdapat semua jenis faktor yang mempromosikan dan memperpetuasi penyakit kronik."

Dengan pengetahuan, bukan hanya obat, tetapi juga dengan kebijakan dan masalah kesehatan masyarakat yang ada sekarang, yang harus mereka pelajari, dokter baru akan mendapatkan penempatan lebih baik dalam memberikan terapi individual dan terapi yang efektif. Di kelas hal ini diterjemahkan, misalnya, menjadi memberikan proyek kepada para mahasiswa mengenai bagaimana cara mengontrol asma setelah belajar mengenai sistem pulmoner.

Aktivitas ini membawa keseluruhan kelas mahasiswa tahun pertama ke Washington untuk menyajikan solusi mereka ke panel diskusi dokter, orangtua dan tenaga kesehatan kota. Solusi satu kelompok merupakan sebuah aplikasi yang disebut AsthMama, yang memberitahukan orangtua atau perawat sekolah sebelum masalah pernapasan anak semakin memburuk.

"Ini merupakan gelang yang bisa dikenakan anak penderita asma. Delang ini bisa mengirimkan informasi ke aplikasi di telepon pintar orangtua," ungkap seorang mahasiswa, Erin Good. Kelompok Good kemudian menunjukkan bagaimana proyek ini bisa dibiayai dan diimplementasikan dalam jangka panjang.

Neel Shah, seorang dokter dan peneliti kebijakan di Harvard, menyebutnya, "Seperti ada ruang besar antara pemahaman tingkat makro dari ekonomi kesehatan dan apa yang menjadi masalah pasien dan dokter di atas kasur rumah sakit."

3. Mengumpulkan dokter, perawat dan apoteker

Di Universitas Thomas Jefferson di Philadelphia, profesor berfokus untuk memberikan pengalaman kepada mahasiswa dengan bekerja dalam kelompok dengan jenis tenaga kesehatan lain seperti perawat, apoteker dan terapis fisik.

"Pada semua industri lain – bisnis, penerbangan, atau apapun itu – untuk mendapatkan outcome yang lebih efisien dan baik, Anda harus melakukan pendekatan tin," ungkap Stephen Klasko, presiden universitas. "Satu-satunya cata untuk melakukan ini dalam dunia kesehatan adalah dengan memulainya dari awal – di bangku kuliah."

Kelompok mahasiswa kesehatan ini diberikan "mentor kesehatan" yang menjadi pasien. Tim, yang terdiri dari dokter, apoteker dan perawat ini, kemudian akan bekerja bersama untuk membangun rencana perawatan saat mengadakan kunjungan pemeriksaan pasien untuk mencatat riwayat mereka.

Meskipun mereka tidak langsung memberikan terapi, namun mereka bisa fokus pada beberapa aspek. Misalnya, mereka bisa meningkatkan kesehatan dan keamanan di rumah pasien atau memonitor interaksi obat yang mereka konsumsi.

Pengalaman ini membuat dokter memahami apa yang dibawa pada ahli ke meja mereka, dan dengan demikian mereka bisa belajar untuk berinteraksi secara lebih efisien dengan mereka. MIMS

Bacaan lain:
Mengajarkan mahasiswa kedokteran tanpa kuliah
Ketika dunia teater bergabung dengan dunia medis: Fakultas Kedokteran di Singapura menggunakan aktor sebagai pasien untuk melatih empati mahasiswa
6 emosi yang pernah dirasakan semua dokter

Sumber:
http://www.npr.org/sections/health-shots/2017/08/03/541411275/vermont-medical-school-says-goodbye-to-lectures
http://www.npr.org/sections/health-shots/2016/06/09/481206602/this-med-school-teaches-health-policy-along-with-the-pills
https://www.usnews.com/education/best-graduate-schools/top-medical-schools/articles/2015/03/18/5-ways-medical-schools-aim-to-teach-the-doctors-of-tomorrow