Mengapa banyak orang merasa ragu untuk mendonorkan darahnya? Alasannya bukan hanya karena masalah medis. Banyak orang merasa takut melihat darah. Apalagi, jika melihat ada jarum yang menempel dan mengalirkan darah, hal ini bukan hanya membuat mual, namun juga membuat calon pendonor mengurungkan niatnya.

Darah manusia merupakan satu-satunya bentuk terapi yang tidak bisa diproduksi secara komersil, dengan demikian ada istilah memberikan darah, sama dengan memberikan kehidupan.

Pendonor darah sering disebut sebagai pahlawan karena dengan kerelaan dan keikhlasan mereka, suplai darah bisa dijaga untuk mereka yang mengalami trauma fisik, penderita penyakit yang membutuhkan transfusi darah, dan pada umumnya bagi wanita dengan kondisi yang berhubungan dengan kehamilan.

Departemen Kesehatan menyebut suplai darah dalam kondisi stabil jika tersedia satu juta unit darah, atau 1 persen dari populasi suatu negara. Sejah ini, negara hanya bisa menyimpan sebanyak setengah dari angka tersebut – 480.000 unit darah di bulan Juni.

Bahkan meskipun stoknya hanya ada setengah juta, banyak orang tidak mau mendonorkan darahnya, karena 'takut'.

Mengatasi 'rasa takut'

Meskipun demikian, para ahli percaya rasa takut bisa diatasi dengan penjelasan.

Sekretaris Kesehatan Filipina Paulyn Ubial mengatakan banyak orang menjadi semangat untuk mendonasikan darah saat ada anggota keluarga atau kerabat dekat dan teman yang membutuhkannya.

Sebaliknya, jika tidak ada yang benar-benar membutuhkannya, banyak orang menolak untuk mendonasikan darah, dengan berbagai macam alasan.

"Ada banyak miskonsepsi, terutama dalam populasi kami. Mereka yang tidak pernah dirawat di rumah sakit atau tidak pernah tahu ada orang yang membutuhkan darah, mereka adalah orang-orang yang takut akan istilah donor darah," kata Sekretaris Ubial.

Joel Torregoza, pemimpin Blood Galloners and Dugong Pinoy Association, Inc., menyebutkan bahwa miskonsepsi yang berhubungan dengan pemberian darah harus diperbaiki.

"Banyak orang yang tidak mendonasikan darah mereka mereka akan menjadi sakit, menjadi lemah. Tetapi ini hanyalah sebuah miskonsepsi," jelasnya.

Ada lagi yang takut akan jarum, tusukan jarum, melihat darah, pingsan, dan menderita penyakit berbeda sebagai alasan tidak mendonasikan darah.

Fotolia_74141543

Menjawab mitos yang ada

Dr Remedios Ong, anggota badan Yayasan Koordinasi Donasi Darah Filipina mengatakan ke MIMS bahwa "rasa takut" ini hanyalah mitos bukan fakta.

"Edukasi dan informasi bisa menyelesaikan miskonsepsi dan mitos ini," kata Dr Ong.

Penggunaan jarum untuk mengambil darah membuat orang merasa bahwa mendonasikan darah merupakan sesuatu yang menyakitkan. Meskipun demikian Palang Merah menyatakan bahwa mereka hanya akan merasakan sedikit sakit dan bahwa tenaga kesehatan biasanya akan memberikan anestesi terlebih dahulu.

Penting untuk mengingat bahwa saat seseorang mengetahui apa ekspektasi mereka maka beberapa bentuk pengalih perhatian bisa berguna untuk mengatasi rasa takut mereka.

Ada orang yang merasa ingin pingsan saat melihat darah. Menurut Psychology Today, ini merupakan refleks primitif. Melihat darah memang bisa membuat beberapa orang merasa tidak nyaman, bahkan terkadang membuat mereka stres.

Meskipun demikian, belum ada bukti yang menunjukkan bahwa pingsan karena melihat darah berhubungan dengan gangguan genetik atau faktor lain.

Menurut Dr Ong, volume darah yang biasa diambil adalah 450 ml. Ini dilakukan untuk mencegah pendonor mengalami syncope, atau kondisi kehilangan kesadaran sementara disebabkan tekanan darah rendah.

"Jika terjadi kehilangan darah sekitar 20% maka syncope akan terjadi [atau] kondisi pingsan... yang sama dengan 1.000 ml," katanya. Selain itu, berat badan dan tekanan darah pasien juga akan diperiksa karena ada standar yang harus diikuti.

Namun, ada beberapa kasus tenaga kesehatan boleh tidak mengikuti standar yang ada selama hal tersebut menguntungkan bagi pasien, catat Dr Ong.

Palang Merah memastikan bahwa aman untuk mendonasikan darah. Jarum yang digunakan dalam prosedur merupakan jarum steril dan langsung dibuang setelah sekali pakai.

Menjawab mitos yang ada merupakan strategi yang baik untuk menyemangati orang untuk mendonasikan darahnya. Dr Ong sendiri juga ikut serta dalam program edukasi yang dilakukan oleh National Voluntary Blood Service of the Philippines (NVBSP), yang melakukan kuliah rutin.

Manfaat baik dari kuliah ini adalah orang-orang yang mendengar kuliah, seiring berjalannya waktu, akan terdorong untuk menyebarkan informasi ini ke kelompok lain, catat Dr Ong.

Palang merah seperti biasa perlu tetap mengadakan edukasi dan sesi perekrutan untuk mengumpulkan lebih banyak sukarelawan donasi darah dari komunitas, perusahaan, organisasi dan universitas berbeda di seluruh dunia. MIMS

Bacaan lain:
Golongan darah non-O memiliki risiko lebih tinggi mengalami komplikasi kesehatan
Kontroversi eksperimen di tahun 1932 yang menimbulkan "gangguan darah"
Darah komodo memiliki potensi menjadi antibiotik baru

Sumber:
http://connect.redcross.sg/mythbusters-and-faqs#
https://www.psychologytoday.com/blog/brain-babble/201302/why-do-some-people-faint-the-sight-blood
http://www.redcross.org.ph/what-we-do/national-blood-services
http://www.redcross.org.ph/get-involved/give-blood/frequently-asked-questions-give-blood